Berita Surabaya

Demi Mainkan Seruling di Makam Kembang Kuning Surabaya, Caroline Datang Jauh-jauh Dari Belanda

Demi Mainkan Seruling di Makam Kembang Kuning Surabaya, Caroline Datang Jauh-jauh Dari Amsterdam.

Demi Mainkan Seruling di Makam Kembang Kuning Surabaya, Caroline Datang Jauh-jauh Dari Belanda
TRIBUNMADURA/AHMAD ZAIMUL HAQ
Caroline asal Belanda (bermain seruling) ditemani dua putrinya, saat berziarah ke makam leluhur mereka, di Makam Kembang Kuning, Surabaya, Rabu (27/2/2019). 

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Caroline Ansink memandangi makam sang kakek, JW Schipper yang berada di deretan Komplek Makam Kehormatan Belanda, Kembang Kuning, Surabaya, Rabu (27/2/2019).

Perempuan yang datang jauh-jauh dari Amsterdam, Belanda itu tak datang sendiri. Dia datang bersama dua putri cantiknya, Luna Ansink dan Luce Ansink.

Ini adalah kunjungan pertama mereka di Surabaya, karena menggantikan ibu Caroline yang sudah tua dan tak bisa melakukan ziarah rutin tahunan ke pusara sang kakek.

Ziarah tersebut dinilai sangat penting, karena 28 Februari merupakan hari bersejarah. Yakni, karamnya tiga kapal Belanda di Laut Jawa, usai terkena serangan torpedo kapal Jepang 28 Februari tahun 1942 di bawah komando Jenderal Karel Willem Frederik Marie Doorman.

Akun Facebook Dicatut Untuk Hancurkan Nama Baiknya, Pelaku Jual Beli Online Langsung Lapor Polisi

Caroline Ansink dan dua putrinya memanjatkan doa, sama seperti puluhan warga Belanda yang datang untuk memperingati momen ini.

Mereka masing-masing tenggelam dalam suasana haru karena baru bisa berjumpa, meski tak tatap muka.

Perempuan yang berprofesi sebagai komponis seruling ini, sempat memainkan seruling bambu yang dia bawa selama lima menit di depan pusara sang kakek.

Alunan musik merdu terdengar, di sela-sela heningnya doa para peziarah lainnya.

"Ini persembahan untuk kakek, kami berharap kakek mendengarnya," katanya singkat, usai berziarah.

Modal Rp 400 ribu, Mantan Yuk Persahabatan Sidoarjo ini Kini Rp 9 juta per Bulan Berkat Online Shop

Caroline bercerita sedikit bagaimana sang kakek bisa menjadi korban pertempuran yang terjadi lebih dari 70 tahun silam itu.

JW Schipper, adalah salah satu teknisi yang bekerja di kapal Angkatan Laut Belanda yang berlayar di laut Jawa.

Setelah mendapat kabar kapal itu karam karena torpedo Jepang, nenek Caroline sekaligus istri JW Schipper kemudian kembali ke negara mereka, Belanda.

"Ibu bercerita, jadi kami ingin melihat langsung di mana kakek beristirahat untuk selamanya," kata Caroline puas dengan pusara JW Schipper, yang terawat dengan rapi. 

Sering Dihukum Tak Wajar dan Ekstrim saat Tak Penuhi Target, Cewek Sales Smartphone ini Lapor Polisi

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Mujib Anwar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved