Berita Surabaya

Wanita DPO Terpidana Mark up Paving Miliaran PT Pelindo III Dieksekusi Kejari Tanjung Perak

Wanita DPO Terpidana Mark up Paving Miliaran PT Pelindo III Dieksekusi Kejari Tanjung Perak Surabaya.

Wanita DPO Terpidana Mark up Paving Miliaran PT Pelindo III Dieksekusi Kejari Tanjung Perak
TRIBUNMADURA/SYAMSUL ARIFIN
DPO Dewi Yuliani (kiri) saat menjalani proses adminitrasi di kantor Kejari Tanjung Perak Surabaya. 

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Kejaksaan Negeri lias Kejari Tanjung Perak Surabaya mengeksekusi terpidana perkara korupsi. Dipimpin oleh Kasi Intel Kejari Tanjung Perak Lingga Nuari berhasil menangkap Dewi Yuliani.

Dewi ditangkap di Kantor Pelindo III Tanjung Perak Surabaya tanpa perlawanan. Sebelumnya, wanita itu dinyatakan sebagai daftar pencarian orang (DPO).

Eksekusi ini dilakukan berdasarkan terbitnya putusan Mahkamah Agung RI bernomor2403 K/Pid.Sus/2018 tertanggal 22 Januari 2019.

Oleh majelis hakim tingkat kasasi, Dewi dinyatakan terbukti bersalah sesuai pasal 2 ayat (1) jo. Pasal 18, Pasal 3 jo. Pasal 18, Pasal 9 Jo. Pasal 18 UU RI No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak pidana korupsi sebagaimana telah dirubah dan ditambah dengan UU RI no.20 tahun 2001 jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

Atas perbuatannya, Dewi Yuliani dijatuhi pidana penjara selama 4 tahun dan denda Rp2 00 juta, apabila tidak dibayar bisa diganti 6 bulan kurungan.

“Dibantu pengawalan dari Polri, tepat pukul 15.00 WIB terpidana kita bawa ke Lapas Wanita di Kota Malang guna menjalani sisa masa hukumannya,” ujar Kasiintel Kejari Tanjung Perak Lingga Nuarie, Jumat, (1/3/2019).

Untuk diketahui, Dewi Yuliani diadili dalam perkara mark up paving yang dari sumber dana perusahaan milik negara, PT Pelindo III Cabang Tanjung Perak senilai Rp 3,5 miliar.

Saat itu, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya, Dewi Yuliani menjalani sidang tak sendiri. Ia menjalani proses hukum bersama empat terdakwa lain.

Mereka adalah Budi Wahyono (pensiunan PT Pelindo III cabang Tanjung Perak), Arief Kurniawan (Direktur PT Rafindo), Slamet Hadiwi (pelaksana proyek PT Rafindo) dan Wibisono (Komisaris PT Rafindo).

Terungkap dalam persidangan, ditemukannya pemalsuan data atas proyek ini, yang bermula dari pertemuan pada Desember 2011.

Saat itu Slamet Hadiwi membawa laporan yang menyatakan jika pengerjaan proyek belum selesai 100 persen.

Dari pertemuan tersebut diketahui waktu pengerjaan mepet dari batas waktu yang telah ditandatangani dalam kontrak.

Lalu untuk mencapai KPI (Key Performance Indicator) dari Pelindo III Cabang Tanjung Perak, para terdakwa menyiasati mark up menyatakan jika pengerjaan telah usai.

Sempat juga dalam sidang saat itu, disinggung salah satu nama berinisial TRJ yang oleh saksi juga dianggap berperan dalam dugaan perkara ini.

Pada saat kejadian, TRJ menjabat sebagai salah satu manajer di perusahaan milik negara tersebut.

Penulis: Syamsul Arifin
Editor: Mujib Anwar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved