Berita Pamekasan

Genap 100 Hari Pimpin Pamekasan, LBH Pusara Kritik Keras Bupati Baddrut: Jangan Cari Panggung Terus

Genap 100 Hari Pimpin Pamekasan, LBH Pusara Kritik Keras Bupati Baddrut Tamam: Jangan Cari Panggung Terus.

Genap 100 Hari Pimpin Pamekasan, LBH Pusara Kritik Keras Bupati Baddrut: Jangan Cari Panggung Terus
TRIBUNMADURA/KUSWANTO FERDIAN
Ketua LBH Pusara Pamekasan, sekaligus pengacara kondang di Pamekasan, Marsuto Alfianto saat ditemui Tribunmadura.com di ruang persidangan Pengadilan Negeri Pamekasan, Rabu (13/3/2019). 

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Kuswanto Ferdian

TRIBUNMADURA.COM, PAMEKASAN - Kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Pamekasan periode 2018-2023 Baddrut Tamam dan Rajae telah berlangsung selama lebih 100 hari, pada Sabtu (2/3/2019).

Selama rentang waktu lebih tiga bulan tersebut, duet Baddrut Tamam dan Rajae telah berhasil menerima dua piagam penghargaan dari Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI).

Namun, sorotan tajam dan kritikan juga muncul dari berbagai kalangan. Karena Bupati dan Wakil Pamekasan tersebut dinilai dinilai belum bisa mewujudkan janji yang disampaikan ketika kampanye.

Hal ini misalnya ditegaskan oleh Ketua LBH Pusara Pamekasan Marsuto Alfianto, Rabu (13/3/2019).

Terungkap, Penyebar Isu Kiamat di Ponorogo Katimun, Minta Jamaah Pakai Pedang, Begini Inti Ajarannya

Selama 4 Tahun, Gadis Ini Diperkosa Ayah Kandungnya di Samping Kamar Ibu hingga Lahirkan Bayi Kembar

Pengacara kondang di Pamekasan ini menilai Bupati Pamekasan Baddrut Tamam lupa akan janji-janjinya saat kampanye pada Pilkada 2018 lalu.

Misalnya, janji pembetukan 10 ribu wirausahawan baru dan suntikan dana pembangunan untuk desa sebesar Rp 500 juta sampai Rp 1 miliar, serta janji akan menurunkan tingkat kemiskinan di Kabupaten Pamekasan.

"Semua janji tersebut hingga 100 hari kerjanya belum bisa diwujudkan sampai saat ini," tegasnya, kepada Tribunmadura.com, saat ditemui di ruang persidangan Pengadilan Negeri Pamekasan.

Marsuto Alfianto minta Bupati dan Wakil Bupati Pamekasan tidak hanya mengejar penghargaan yang sifatnya formalitas, seperti rekor MURI dan piala Adipura. Karena hal itu dinilainya hanya wujud untuk pencitraan saja.

"Jangan cuma ngejar piala sebagai formalitas seperti rekor muri, adipura dan lain-lain. Janji untuk membuka lapangan pekerjaan, menurunkan tingkat kemiskinan harus segera realisasikan. Jangan cari panggung terus," tandasnya. 

Takut Isu Kiamat, 52 Warga Ponorogo Hijrah ke Malang, Begini Cara Mereka Kelabuhi Kades dan Tetangga

Bayinya Lahir Buntung, Ibu Kandung di Sumenep ini Langsung Ngebut Pakai Motor Membuangnya di Kuburan

Halaman
12
Penulis: Kuswanto Ferdian
Editor: Mujib Anwar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved