Berita Pamekasan
Tips Beternak Burung Lovebird dari Peternaknya Langsung, Bisa Bertelur Efektif dan Hasil Maksimal
Lovebird belakangan ini menjadi jenis burung primadona bagi pecinta burung di Indonesia.
Penulis: Kuswanto Ferdian | Editor: Ayu Mufidah Kartika Sari
Lovebird belakangan ini menjadi jenis burung primadona bagi pecinta burung di Indonesia
Laporan Wartawan TribunMadura.com, Kuswanto Ferdian
TRIBUNMADURA.COM, PAMEKASAN - Beternak burung Lovebird pada umumnya tidak dilakukan hanya untuk sepasang indukan.
Pasalnya, burung Lovebird ini lebih senang hidup berkoloni atau bergerombol.
Maka untuk membudidayakan si paruh bengkok ini, dianjurkan untuk memelihara indukan dalam jumlah banyak.
• HUT Bhayangkara ke-73, Polres Bangkalan Gelar Lomba Burung Kicau, Diikuti Ratusan Pecinta Burung
Beternak burung Lovebird sebenarnya bisa dilakukan di sangkar kecil jeruji besi ukuran 40x40x60 cm yang banyak dijual di kios pakan burung.
Ada pula yang beternak secara koloni di dalam satu kandang besar yang diisi puluhan pasang indukan.
Dalam budidaya Lovebird secara massal, peternak harus melakukan berbagai macam cara untuk meningkatkan produksi semaksimal mungkin.
Mohammad Hari, peternak Lovebird asal Pamekasan mengaku, punya beberapa jurus jitu untuk menjalankan ternak secara maksimal dan efektif.
“Beternak yang paling produktif adalah menggunakan pola asuh yang mana anakan yang masih disuapi induk diambil alih untuk diloloh oleh manusia," katanya saat ditemui TribunMadura.com di Pasar Hewan 17 Agustus, Minggu (23/6/2019).
• Harga Jual Lovebird di Pamekasan Makin Anjlok, Satu Ekor Burung Lovebird Hanya Seharga 30 Ribu
"Untuk pola ini, produksinya bisa meningkat sampai dua kali lipat dibanding pola alami,” sambung dia,
Mohammad Hari mengatakan, induk yang membesarkan anak secara alami, siklus produksi rata-rata tiap tiga bulan atau sekitar 90 hari.
Sedangkan dengan sistem lolohan, siklusnya bisa dipersingkat menjadi sekitar 50 hari.
"30 hari masa bertelur dan mengeram, 10 hari usia anakan diambil alih dan 10 hari selanjutnya sebagai masa jeda untuk kawin dan persiapan bertelur," jelasnya.
“Tapi pola ini sangat menyita waktu, karena peternak harus meloloh anakan sebanyak empat atau lima kali sehari sehingga jarang dilakukan peternak yang umumnya punya pekerjaan di luar rumah,” pungkasnya.
• Terdesak Kebutuhan Ekonomi, Petani Curi Sarang Burung Walet Ratusan Juta Rupiah di Lamongan