Breaking News:

Berita Jatim

Terungkap, 142 Perguruan Tinggi dan 204 Program Studi di Jatim Hingga Kini Belum Terakreditasi

Terungkap dan Memprihatinkan, 142 Perguruan Tinggi dan 204 Program Studi di Jatim Hingga Kini Belum Terakreditasi.

Editor: Mujib Anwar
Tribun Jabar/ Gani Kurniawan
Peserta Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) agar bisa diterima masuk di jurusan yang ada di kampus PTN di Indonesia. 

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA – Pendampingan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah Tujuh masih terus dilakukan. Pasalnya, hingga saat ini masih banyak perguruan tinggi maupun program studi (prodi) yang belum terakreditasi di Jatim.

Sekretaris LLDikti Wilayah 7 Jatim Widyo Winarso mengatakan, usulan pendirian perguruan tinggi memang cukup banyak. Tahun ini, ada tujuh perguruan tinggi baru yang berdiri. Lokasinya tersebar di berbagai wilayah di Jatim.

“Perguruan tinggi baru bisa mengurus akreditasi setelah dua tahun. Jadi sudah punya akreditasi saat meluluskan mahasiswanya,” ujarnya, dikonfirmasi SURYA (Tribunmadura.com Network), (25/12/2018).

Pasalnya, akreditasi merupakan jaminan mutu sebuah lembaga. Baik secara institusi kampus maupun prodi. Sehingga lulusan yang menerima ijazah dari kampus yang belum memiliki akreditasi akan diragukan di dunia kerja karena tidak terdata.

Pihaknya mendorong perguruan tinggi maupun prodi untuk bisa mengurus akreditasi. Prodi ataupun perguruan tinggi yang belum terakreditasi namun sudah meluluskan mahasiswa, maka ijazah lulusannya tidak diakui. Sehingga mahasiswa yang bersangkutan tentu akan dirugikan.

”Ijazah lulusannya tidak punya civil effect. Termasuk untuk melamar pekerjaan,” jelas Widyo Winarso.

Ia mengungkapkan data LLDikti hingga Oktober 2018 terdapat 326 perguruan tinggi yang ada di Jatim, dan 142 di antaranya perguruan tinggi yang belum terakreditasi. Adapun prodi, terdapat 204 prodi yang belum terakreditasi.

“Semua aspek dalam perguruan tinggi maupun prodi dinilai dalam proses akreditasi. Mulai dari sumber daya manusia, kualitas, sarana prasarana, dan sebagainya. Termasuk karya-karya penelitian dosen, ” ujarnya.

Untuk mengatasi perbaikan akreditasi, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Direktorat Penjaminan Mutu Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan membuka kesempatan bagi Perguruan Tinggi unggul (ter-akreditasi A) untuk membina perguruan tinggi (PT) lain yang masih terakreditasi C melalui Hibah ”Program Asuh PT Unggul”.

Salah satu kampus yang mengikuti program ini yaitu UK Petra yang sudah dua kali mengikuti program ini. Untuk mengikuti program tahunan ini, Dirjen Belmawa Kemenristekdikti memberikan persyaratan, yaitu PT harus mendapat akreditasi institusi A dan mengirimkan proposal terlebih dahulu untuk di-review.

Rektor UK Petra Surabaya Prof Djwantoro Hardjito mengungkapkan, melalui program ini, para PT unggul diminta untuk dapat sharing best practice sekaligus untuk membangun budaya mutu sehingga terdorong menjadi unggul.

“Peningkatan peringkat akreditasi merupakan hasil yang ingin diraih dari perbaikan manajemen mutu yang diterapkan di PT tersebut,” tegasnya.

Karenanya, UK Petra nantinya tak hanya fokus pada perbaikan peringkat program studi yang mendapat nilai C saja akan tetapi juga pembenahan manajemen mutunya, di antaranya komitmen terhadap mutu, pengembangan sistem penjaminan mutu dan penyediaan auditor mutu internal.

Dalam hal ini, UK Petra mengasuh Universitas Kristen Wira Wacana (Unkriswina) Sumba Timur, Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang dan Institut Teknologi Del (IT Del) Toba Samosir. (Surya/Sulvi Sofiana)

Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved