Breaking News:

Berita Malang

Pemkot Malang Disarankan Terapkan Moda Transportasi Seperti Trans Jakarta untuk Urai Kemacetan Kota

Menurut Ludfi Djakfar, keberadaan transportasi umum yang nyaman bisa mengurangi tingkat kemacetan.

SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO
Ratusan kendaraan terjebak kepadatan arus lalu lintas di Jalan Rabu Grati, Kota Malang, Sabtu (1/9/2018). 

TRIBUNMADURA.COM, MALANG - Untuk mengurai kemacetan di Kota Malang, pengamat transportasi dari Universitas Brawijaya, Ludfi Djakfar Phd menyarankan, Pemkot Malang untuk menerapkan moda transportasi umum seperti Trans Jakarta atau Trans Jogja.

Menurut Ludfi Djakfar, keberadaan transportasi umum yang nyaman bisa mengurangi tingkat kemacetan.

Namun ia juga mengingatkan, harus ada instrumen pendukung jika ingin mengadakan transportasi umum seperti Trans Jakarta.

Ludfi Djakfar menuturkan, Pemkot Malang tidak hanya sebatas memberikan edukasi kepada masyarakat agar mau menggunakan transportasi umum.

Waktu Tepat untuk Berkencan usai Putus Cinta Menurut Pakar, Terima Fakta Jika Dia sudah Jadi Mantan

“Saya melihat pajak kendaraan masih murah. Misal dibuat mahal, tapi ada kompensasinya berupa transportasi umum yang nyaman," kata Ludfi Djakfar.

"Orang sekarang lebih memilih sepeda motor karena praktis. Seperti di Singapura, beli mobil pajak mahal tapi ada kompensasi transportasi umum yang nyaman,” jelas Ludfi Djakfar.

Ia menilai, orang lebih memilih opsi lain ketimbang naik transportasi umum karena dinilai praktis.

Di sisi lain, untuk mendorong masyarakat Kota Malang menggunakan transportasi umum, yakni dengan mengadakan transportasi murah dan tetap memperhatikan kenyamanan.

Turut Prihatin Mantan Timnya Terdegradasi ke Liga 2, Hamka Hamzah: Jangan Lama-Lama di Liga 2

“Kalau sekadar disediakan, tidak ada kebijakkan lain, saya tidak yakin berhasil. Studi menyatakan, kalau orang berjalan 200 meter, oke-oke saja. Jadi artinya, kalau orang berjalan sejarak itu untuk mencari transportasi umum tidak masalah,” ungkapnya.

Sementara itu, pengamat tata ruang kota sekaligus dosen PWK dan planologi Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Dr Ibnu Sasongko mengatakan, ada dua hal yang perlu diperhatikan untuk menata Kota Malang agar terhindar dari kemacetan.

Pertama adalah terkait distribusi fasilitasnya, seperti pendidikan, kesehatan, serta perdagangan harus diratakan. 

Pintu Air Sungai Amprong Kota Malang Ditutup, Warga Sekitar Bantaran Berburu Remis

“Kalau ditarik dari akarnya berdasarkan teori, pergerakan orang itu ada asal dan tujuan. Tempat itu umumnya bisa ke arah pendidikan, kerja serta belanja," jelas Ibnu Sasongko. 

"Nah dari itu, kenapa Malang macet karena lokasional zona tidak jalan penuh. Misal sekolah, semua orang ingin SMA di kawasan Tugu, semua bergerak ke situ. Akibatnya, daerah tidak favorit tidak menjadi tujuan,” sambung dia.

Di sisi lain, jalur alternatif bisa menjadi pilihan ketika di satu titik terjadi kemacetan.

“Kepadatan lalu lintas di Kota Malang tinggi karena sifat pergerakannya acak, tidak terpola tertentu,” papar Ibnu.

Pria di Malang Tega Bacok Temannya Sendiri, Mengaku Dendam usai Disakiti Menggunakan Ilmu Hitam

Penulis: Benni Indo
Editor: Ayu Mufidah Kartika Sari
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved