Breaking News:

Berita Sampang

Kasus Demam Berdarah di Sampang Naik, Dinkes Genjot Gerakan Berantas Sarang Nyamuk dan Soroti Pagar

Kasus Demam Berdarah di Sampang Meningkat, Dinas Kesehatan Genjot Gerakan Berantas Sarang Nyamuk dan Soroti Pagar.

TRIBUNMADURA/HANGGARA PRATAMA
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang, Asrul Sani. 

Laporan wartawan TribunMadura.com, Hanggara Pratama

TRIBUNMADURA.COM, SAMPANG - Naiknya kasus penderita penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Sampang langsung disikapi serius oleh Dinas Kesehatan. Jika tahun 2017 kasusnya hanya 155, pada tahun 2018 kasusnya naik 12 persen menjadi 174.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang Asrul Sani mengatakan, pihaknya akan meningkatkan upaya pemberantasan kasus DBD, melalui menggenjot gerakan pemberantasan sarang nyamuk.

Gerakan tersebut diawali dengan pemeriksaan jentik, ternyata masih banyak daerah-daerah yang bebas jentiknya masih rendah.

"Tapi rata-rata sementara ini cukup baik, sebanyak 86 persen kontainer dan tempat penampungan air itu sudah bebas dari jentik nyamuk dan harapan ke depan itu akan meningkat," ujarnya, saat ditemui di kantornya, Rabu (16/1/2019).

Selain itu, Asrul Sani juga mengharapkan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan, agar nyamuk aedes aegypti tidak gampang berkembang biak.

Awas, Jumlah Kasus Demam Berdarah di Kabupaten Sampang Meningkat Lagi

Belum Ada Dua Bulan, Korban Serangan Penyakit Demam Berdarah di Jombang Sudah 2 Orang Meninggal

Caranya, dengan memperhatikan cara 3M, meliputi menutup, menguras, dan mengubur benda-benda yang bisa menjadi sarang nyamuk demam berdarah tersebut.

Kemudian petugas Dinas Kesehatan juga akan stanby. Jika tiba-tiba terdapat kasus DBD, petugas akan langsung melakukan penyelidikan epidemiologi, dengan mendatangi lokasi kemudian memeriksa rumahnya.

"Itu untuk memastikan seperti apa kasusnya, apakah benar dia tergigit nyamuk di daerah situ. Kita juga memeriksa kontak rumah di sekitar penderita," jelas Asrul Sani.

Kalau memang terdapat kasus DBD Dinkes akan melakukan fogging untuk mencegah penularan. Meski, fogging hanya memiliki pengaruh 30 persen dalam pembasmian.

"Yang paling bagus sebenarnya adalah pemberantasan sarang nyamuk, jadi harapan kita dari masyarakat juga melakukan upaya 3M," tegasnya, mengingatkan.

Untuk itu, Asrul Sani sekali lagi menghimbau masrakat agar selalu menjaga lingkungan, terutama di musim penghujan seperti saat ini, dimana kasus DBD biasanya meningkat.

Jamin Hak Pilih, Bawaslu Pamekasan Siapkan Ribuan Tim Pengawas Awasi TPS Pemilu 2019

Di Branskasnya Ada Uang Lebih Rp 500 Juta, Kepala BPPKAD Pemkab Gresik Dijebloskan ke Rutan Medaeng

"Banyak masyarakat tidak paham, kalau nyamuk demam berdarah berkembang biak bukan di tempat kotor seperti selokan, melainkan nyamuk aedes aegypti berkembang biak di tempat-tempat bersih atau genangan air jernih seperti tandon, timba air yang di biarkan geletaan di halaman dan bambu yang terbuka ujungnya," jelasnya.

Selain itu, masih banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa pagarnya yang terbuat dari bambu dengan lubang di setiap bambunya itu adalah sarang nyamuk. "Jadi harus tetap sigap untuk menutupnya," pungkasnya.

Penulis: Hanggara Pratama
Editor: Mujib Anwar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved