Berita Surabaya

Fenomena Kasus Bunuh Diri di Surabaya, Waspada Faktor dan Kombinasi Pemicunya

Fenomena bunuh diri masal ini menurut psikiater Fungsional RS Menur Surabaya, dr Hendro Riyanto Sp KJ, bukan hal baru.

TRIBUNJATIM.COM/NUR IKA ANISA
Rumah korban gantung diri di Jalan Krakah Rejo III,  Kecamatan Tambaksari, Surabaya, Jumat (25/1/2019)  

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Dalam seminggu, sebanyak tiga orang tewas diduga bunuh diri di Surabaya.

Fenomena bunuh diri masal ini menurut psikiater Fungsional Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya, dr Hendro Riyanto Sp KJ, bukan hal baru.

dr Hendro Riyanto mengatakan, bahkan WHO sudah memprediksi, setiap bulan September selalu diperingati pencegahan bunuh diri.

Itu karena menurut data tiap 40 detik sekali, kejadian bunuh diri terjadi di seluruh dunia.

Fakta Penemuan 5 Mayat di Malang Selama Januari 2019, Sosok Tanpa Kepala hingga Dugaan Bunuh Diri

Fakta-fakta Sepasang Kekasih Tewas di Hotel Pamekasan, Asmara Keduanya Sempat Akan Berakhir

dr Hendro Riyanto menyampaikan, tindakan bunuh diri memiliki banyak faktor dan kombinasinya.

Pada umumnya mereka mengalami tekanan psikis dan orang kaya yang secara ekonomi mereka berkecukupan.

"Harus melihat aspek eksternal dan internal juga. Faktor internal, misalnya punya kepribadian introvert, susah menyampaikan keluhan isi hatinya, sehingga mereka punya tekanan berat atau faktor eksternal," kata dr Hendro Riyanto, Jumat (25/1/2019).

"Peristiwa kehidupan yang membuat seseorang tidak nyaman depresi dan putus asa, misal masalah sekolah, hubungan dengan pasangan, dan banyak hal di luar dirinya," sambung dia.

Pria Bujang Ditemukan Tergantung di Lantai 2 Rumah, Sempat Kirim Surat Izin Bunuh Diri ke Keluarga

Pria Asal Surabaya yang Bunuh Diri di Hotel Diduga Tak Gunakan Kamarnya, Tewas setelah Hantam Mobil

dr Hendro Riyanto mengimbau, apabila mendengar ada individu-individu punya keinginan untuk bunuh diri, sebaiknya langsung diajak ke dokter.

"Segera bawa ke dokter, apalagi keluarga tahu ada anggota keluarga yang berkeinginan untuk bunuh diri. Karena pasti ada tanda-tanda yang mengarah ke sana, kecuali implusif ya mendadak saja," terang dia.

"Tanda-tanda mereka yang ingin bunuh diri kalau gak ngomong, ya biasanya nulis surat yang mengarah ke sana (bunuh diri)," tutupnya. Pipit Maulidiya

Jokowi Beri Remisi I Nyoman Susrama, Jurnalis dan Aktivis di Kota Malang Gelar Aksi

Kantor Pos Madiun Tunda Pengiriman 3 Karung Isi Tabloid Indonesia Barokah dari SPP Surabaya

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Ayu Mufidah Kartika Sari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved