Breaking News:

Berita Lamongan

Lamongan Bangun PLTSa Senilai Rp 2,4 Miliar, Hanya Sekali Diuji Coba Lalu 4 Tahun Dibiarkan Mangkrak

Lamongan Bangun PLTSa Senilai Rp 2,4 Miliar, Hanya Sekali Diuji Coba Lalu 4 Tahun Dibiarkan Mangkrak.

Penulis: Hanif Manshuri | Editor: Mujib Anwar
TRIBUNMADURA/HANIF MANSHURI
PLTSa yang dibangun dengan anggaran miliaran di Tambakboyo Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur yang mangkrak, Kamis (31/01/2019). 

TRIBUNMADURA.COM, LAMONGAN – Prediksi timbunan sampah di Lamongan menjadi barang langka setelah dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) senilai Rp 2,4 miliar, nampaknya tak terbukti.

Bahkan PLTSa yang dibangun dan pernah diuji coba empat tahun lalu, tepatnya Rabu (14/1/2015), sampai hari ini, Kamis (31/1/2019) hanya menjadi sebuah terobosan dan bangunan prestisius.

Setidaknya itu bisa dilihat, dan praktis sejak diuji coba tak pernah lagi dioperasionalkan yang bisa diharapkan pemanfaatan listrik yang dihasilkannya.

Bahkan kini di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) di Desa Tambakrigadung Kecamatan Tikung ini menjadi lahan empuk sejumlah pemulung dan parkirnya para bos rongsokan alias pengepul yang melakukan transaksi pembelian dan penimbangan langsung dari hasil para pemulung mengais sampah di lokasi TPS.

Secara teknik, mestinya awal kapasitas terpasang PLTS itu bisa menghasilkan listrik sebesar 25 KVA setiap harinya, namun kini mangkrak tidak dioperasionalkan.

Wartawan Tribunmadura.com ke lokasi, Kamis (31/01/2019) menunjukkan peralatan PLTSa itu terlihat mulai muncul karat di sejumlah bagian lantaran tidak pernah dioperasionalkan lagi sejak selesai diuji cobakan.

Ada sejumlah rangkaian peralatan itu berkarat, bukti karena peralatan itu tidak dioperasionalkan oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH). Inilah yang memicu kesempatan para pemulung bebas mengais sampah yang bisa dijual diluaran, seperti sampah plastik.

“Sudah lama teman – teman ambil sampah plastik di sini (TPA). Ada empat pengepul yang setiap hari menerima hasil kami di tempat ini,” ungkap pemulung yang mengaku bernama Mardian.

Perlu tahu, jika PLTSa itu dioperasionalkan setelah sampah yang diolah dikurangi pengomposan komunal oleh warga dan pemulung, dan menyisakan 64 ton sampah perhari akan menghasilkan listrik sesuai perhitungan secara teknik seperti saat PLTSa diuji coba.

Kini pembangunan tempat peralatan atau mesin PLTSa hanya menjadi "monumen" sebuah bangunan mangkrak.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved