Breaking News:

Rumah Politik Jatim

Efek Ekor Jas Pengaruhi Keseriusan Koalisi, Polmark: Pilpres Untungkan Partai Kandidat Paslon Saja

Lembaga survei Polmark Indonesia menjelaskan bahwa tak semua partai politik peserta pemilu mendapatkan dampak positif dari pemilihan presiden

Penulis: Bobby Koloway | Editor: Aqwamit Torik
TRIBUNMADURA/BOBBY KOLOWAY
Eep Saefulloh Fatah, Founder dan CEO Polmark Indonesia saat menyampaikan hasil survei lembaga yang dipimpinnya di Forum Pikiran Akal dan Nalar, di Surabaya, Selasa (5/2/2019). 

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Lembaga survei Polmark Indonesia menjelaskan bahwa tak semua partai politik peserta pemilu mendapatkan dampak positif dari pemilihan presiden.

Polmark bahkan menyebut hanya dua partai dari 16 partai politik yang mendapat peningkatan elektabilitas secara langsung pada pemilu serentak yang baru kali pertama digelar ini.

Asumsi ini didasarkan dengan banyaknya calon konstituen yang akan memilih partai yang mempunyai kandidat di pilpres.

Banyak Dihujat Netizen Usai Operasi Plastik, Roy Kiyoshi Akui Langsung Hapus Komentar: Nggak Kebaca

Banjir Besar Akibat Hujan Deras Melanda Tuban, Desa di Empat Kecamatan Terendam Banjir

Pilpres 2019 Kurang Dari 2 Bulan, Lembaga Survei Polmark Indonesia Sebut Golput Hampir di Angka 50%

"Responden yang memilih partai yang punya kandidat di atas 40 persen. Sedangkan hanya 30 persen responden memilih partai yang mengusung," ungkap Eep Saefulloh Fatah, Founder dan CEO Polmark Indonesia kepada Surya.co.id (TribunMadura.com network) ketika dikonfirmasi dari Surabaya, Rabu (6/3/2019).

Tentu, apabila mempertimbangkan data tersebut, hanya PDI Perjuangan (partai yang menaungi Joko Widodo, Capres nomor urut 01) dan Partai Gerindra (Partai yang menaungi Prabowo Subianto, Capres nomor urut 02) yang diuntungkan. Sedangkan partai lainnya yang berstatus sebagai pengusung/pendukung hanya mendapat sebagian kecil pengaruh.

"Masalahnya, partai yang mengusung dibagi antara PDI Perjuangan dan Gerindra saja. Pemilih yang ceruk pemilihnya lebih besar, dibagi dua partai itu. Ironisnya, ceruknya yang lebih kecil, dibagi oleh partai yang jumlahnya lebih banyak," ujar Eep.

Parkir Liar Pasar Kolpajung Pamekasan Bermunculan, Pengunjung Pasar Bayar Parkir Dua Kali Lipat

Berniat Bunuh Diri Lompat Dari Tower Listrik, Nahas Pria ini Tewas Tersengat Listrik Saat Memanjat

Banjir Capai 5 Meter Hanyutkan 7 Desa di Madiun, Ternak dan Barang Berharga Ikut Hanyut

Tak mengherankan, apabila mempertimbangkan sikap rasional ini, tak semua partai akan serius untuk berkampanye pilpres.

"Melihat hal ini, dampak pilpres terhadap pileg jelas sangat lebih menguntungkan partai yang punya kandidat," kata Eep.

Sebelumnya, golongan masyarakat yang belum menentukan pilihan di pemilu serentak masih cukup besar terungkap pada hasil survei Polmark Indonesia yang dirilis di Surabaya, Selasa (5/3/2019).

Mengutip data Polmark, angka yang berpotensi masih bisa diperebutkan oleh masing-masing paslon di pilpres mencapai 48 persen.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved