Berita Mojokerto

Keracunan Air Ketuban, Tubuh Balita di Mojokerto ini Hanya Tinggal Tulang dan Kulitnya Saja

Keracunan Air Ketuban, Tubuh Balita di Mojokerto ini Hanya Tinggal Tulang dan Kulitnya Saja.

Keracunan Air Ketuban, Tubuh Balita di Mojokerto ini Hanya Tinggal Tulang dan Kulitnya Saja
TRIBUNMADURA/DANENDRA KUSUMA
Asmiatun tengah menimbang berat badan Fajar di ruang tamu rumahnya di Kabupaten Mojokerto, Selasa (9/4/2019). 

Dia menyebutkan, pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto belum pernah menengok kondisi Fajar.

Hanya salah satu bidan desa saja yang menengok kondisi Fajar.

"hanya bidan desa yang menjenguk serta membawa roti biscuit balita. Namun tidak rutin bidan desa menengok. Bidan desa juga tak menyarankan ke dokter. Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto juga belum ke sini," tegas Asmiatun.

Usai Perkosa Bocah 15 Tahun, Dukun ini Juga Cabuli Sejumlah Gadis Muda Pakai Senjata Jodoh & Rezeki

Ribuan Penggemar Toyota Land Cruiser Indonesia (TLCI) Akan Banjiri Kota Surabaya Lewat Jamnas

Dinas Kesehatan Akan Cek Kondisi Fajar

Sementara itu, Susy Dwi Harini, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto mengatakan, pihaknya belum mendapat laporan terkait adanya kasus bayi keracunan air ketuban.

Yakni, balita warga Dusun Jatikumpul, Desa Mojokumpul, Kemlagi Kabupaten Mojokerto yang memiliki bobot tak normal. Balita itu tak lain adalah Ahmad Fajar (4).

"Mekanisme pelaporan secara bottom up. Jadi, masyarakat melaporkan ke puskesmas, lalu puskesmas baru ke Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto. Sementara belum ada laporan dari puskesmas," katanya, kepada Surya (Grup Tribunmadura.com) melalui sambungan telepon, Selasa (9/4/2019).

Kendati begitu, pihaknya akan melakukan pengecekan terhadap kondisi Fajar.

"Kami bakal menindaklanjuti laporan ini. Saya akan turun ke lapangan untuk mengecek kondisinya," ucapnya.

Susy menduga bila Fajar menderita gizi buruk. Sebab, berat badan Fajar tak sesuai dengan usianya.

"Bicara gizi buruk ada dua penyebab, yakni langsung dan tak langsung. Faktor tidak langsung karena kemiskinan dan pendidikan orang tua," tegasnya.

"Faktor tidak langsung ini mempunyai andil 70 persenmenyebabkan gizi buruk," imbuh Susy Dwi Harini. (Danendra Kusuma)

Penulis: Danendra Kusuma
Editor: Mujib Anwar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved