Rumah Politik Jatim

Jelang Dua Hari Coblosan Pemilu 2019, Pengamat Politik Sebut Pemilih Jawa Timur Sudah Matang

Jelang Dua Hari Coblosan Pemilu 2019, Pengamat Politik Sebut Pemilih Jawa Timur Sudah Matang

Jelang Dua Hari Coblosan Pemilu 2019, Pengamat Politik Sebut Pemilih Jawa Timur Sudah Matang
istimewa
Pengamat politik dari Universitas Airlangga Surabaya, Suko Widodo 

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Jelang dua hari coblosan Pemilu 2019, Pakar Komunikasi Politik Universitas Airlangga Surabaya Suko Widodo menyebut posisi pemilih di Jawa Timur sudah dalam posisi matang.

Artinya mereka sudah dalam posisi memiliki pilihan mantap dan susah untuk berpindah pilihan.

"Ini ibaratnya buah sudah matang, artinya pada posisi ini kategori inforcement atau peneguhan ulang untuk melakukan kampanye relatif sudah tidak berpengaruh," kata Suko, Senin (15/4/2019).

Mudah Banget, Begini Cara Mengecek Apakah Nama Kamu Sudah Masuk DPT Pemilu 2019 Lewat Online

Bejat, Kepala Sekolah Diduga Cabuli 14 Siswa SD, Ancam Dikeluarkan Sekolah Jika Lapor Orang Tua

BTS Resmi Jadi Artis Pertama di Dunia Pecahkan Rekor Penonton YouTube Tercepat Lewat MV Boy With Luv

Kalaupun masih ada yang bergerak melakukan sosialisasi, atau penguatan di masa tenang seperti hari ini, menurut Suko hanya bersifat menambah pengetahuan saja. Namun susah untuk bisa membalikkan pilihan dari satu kandidat ke kandidat lain. Terutama untuk Pilpres.

Lebih lanjut, Suko menyebut jika ada perpindahan pilihan, kemungkinannya kecil. Apalagi jika faktornya adalah masih adanya giat kampanye atau ajakan meskipun bersifat tertutup.

Yang bisa membuat seseorang pemilih pindah pilihan ada beberapa faktor. Dua diantaranya adalah jika kandidat yang dipilihnya tersandung kasus hukum, atau kedua adalah karena lawannya melakukan kampanye menggunakan money politics.

"Tapi untuk kasus ini (yang pindah pilihan karena politik uang) tidak banyak. Berdasarkan survei survei yang ada, kemungkinan hanya sekitar 15 persen saja," tegas Suko.

Namun, secara umum, Suko mengatakan bahwa secara umum, seseorang yang terkena intervensi di manapun akan memunculkan entitas dalam dirinya. Yang kebanyakan kegoyahan terjadi tidak mungkin karena uang.

"Kalau dalam teori politik misalnya karena ketakutan, karena material, tapi misalnya dalam kasus di Jatim khususnya di Madura, saya percaya bahwa pemilih di sana tidak akan terlalu terpengaruh dari banyak interfensi," katanya.

Saat ditanya apakah ini memungkinkan bahwa hasil di Pilpres 2014 akan terulang di Madura, Suko mengatakan belum tentu. Sebab hasil di Pemilu 2019 nanti tergantung dari relationship aktor politik dengan masyarakat pemilih di Madura.

"Pindah tidaknya, tergantung pengaruh aktor politik di sana, termasuk pada publik figurnya. Mulai dari ketua partai, petinggi, akademisi atau juga profesional disana dalam membangun komunikasi politik dengan pemilih," tegasnya. (Fatimatuz Zahroh)

Menantu Bakar Mertua Hidup-hidup Ditangkap, Beraksi Saat Salat Jumat dan Penyebabnya Sepele Banget

Pasar Comboran Kota Malang Sepi Pengunjung, Disperindag Pemkot Malang Persilahkan Perkawinan

Raih Poin Tertinggi di Premier League Bukan Jaminan Liverpool Raih Juara Liga? Berikut Analisanya

Penulis: Fatimatuz Zahroh
Editor: Aqwamit Torik
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved