Rumah Politik Jatim

Pengamat Politik Nilai Serangan Fajar Atau Money Politic di Jatim Kurang Berikan Efek

Pengamat Politik Nilai Serangan Fajar Atau Money Politic di Jatim Kurang Berikan Efek

Pengamat Politik Nilai Serangan Fajar Atau Money Politic di Jatim Kurang Berikan Efek
TRIBUNMADURA/IST
Surokim Abdussalam, pengamat politik yang juga Dosen Komunikasi Politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM). 

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Serangan fajar yang kerap identik dengan melakukan tindakan bagi-bagi uang di masa dekat coblosan masih tinggi terjadi di pedesaan di Jawa Timur.

Sebagaimana dikatakan oleh Surokim Abdussalam, dosen komunikasi politik dan dekan FISIB Universitas Trunojoyo Madura (UTM), potensi melakukan politik uang di Jatim masih tinggi khususnya untuk Pileg.

Meski begitu, berdasarkan data survei yang ia lakukan, meski potensi politik uang tinggi di Jatim, bagi-bagi uang relatif tidak berpengaruh bagi pemilih di Jawa Timur.

Bahkan efektivitas money politics di Jawa Timur hanya di angka 19 persen saja.

Mudah Banget, Begini Cara Mengecek Apakah Nama Kamu Sudah Masuk DPT Pemilu 2019 Lewat Online

Raih Poin Tertinggi di Premier League Bukan Jaminan Liverpool Raih Juara Liga? Berikut Analisanya

BTS Resmi Jadi Artis Pertama di Dunia Pecahkan Rekor Penonton YouTube Tercepat Lewat MV Boy With Luv

"Money politics kita itu double track. Money politic langsung ke pemilih dan money politic ke struktur. Dua duanya ada jaringan yang sudah beroperasi dan menjadi habit di masyarakat kita," kata Surokim, pada Surya, Senin (15/4/2019).

Memang, Surokim melanjutkan, money politic di urban perkotaan akan menurun di Pemilu 2019 ini, tetapi di rural atau pedesaan pedalaman masih tinggi.

Money politic double track itulah yang membuat biaya politik kian besar. Wilayah Madura dan Pandalungan tercatat sebagai daerah yang paling besar biaya money politic di Jawa Timur.

"Tapi, sejauh ini efektivitas money politic secara keseluruhan di Jatim hanya 19 persen. Itu artinya dari 100 amplop yang dibagikan yang efektif mau mencoblos yang ngasih hanya 19 amplop. Selebihnya tidak bahkan. Bahkan 40 persen akan menerima uangnya dan akan memilih yangg lain untuk menghukum yang memberi uang. Sedangkan di perkotaan angkanya turun hanya 17 persen efektivitasnya," tegas Surokim yang juga peneliti di Surabaya Survey Center (SSC) ini.

Di sisi lain, Surokim menyebut. jika melihat angka undecided voters yang masih di angka 11 persen dan swing voters yang ada di angka 24 persen, menurutnya perubahan pilihan masih dinamis hingga besok malam.

Pergerakan undecided voters dari 13 persen ke 11 persen saat ini menurutnya juga lambat sehingga ia menduga bahwa pemilih rasional ada dalam kondisi kritis.

Halaman
12
Penulis: Fatimatuz Zahroh
Editor: Aqwamit Torik
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved