Rumah Politik Jatim

Kerap Jadi Prioritas, Pengamat Politik Sebut Jawa Timur Jadi Penentu Pemenangan di Pileg 2019

Kerap Jadi Prioritas, Pengamat Politik Sebut Jawa Timur Jadi Penentu Pemenangan di Pileg 2019

Kerap Jadi Prioritas, Pengamat Politik Sebut Jawa Timur Jadi Penentu Pemenangan di Pileg 2019
TRIBUNMADURA/IST
Surokim Abdussalam, pengamat politik yang juga Dosen Komunikasi Politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM). 

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA -  Jawa Timur masih menjadi daerah yang diprioritaskan untuk dimenangkan. Pengamat politik Univeritas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdusussalam pun menilai wajar apabila partai politik pin berlomba-lomba menancapkan pengaruhnya di masa-masa akhir kampanye.

Misalnya saja Partai Demokrat yang menjadikan Jatim sebagai wilayah pamungkas penyelenggaraan kampanye akbar. Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bahkan hadir untuk menyampaikan pidato kebangsaan, Sabtu (13/4/2019) lalu.  

Surokim menilai pada Pemilu 2019, Partai Demokrat sangat mengandalkan daya juang dan kreatifitas para caleg dan tokoh lokal yang dimiliki.

Pembunuh Guru Honorer Dimutilasi Minta Maaf & Doakan Korban, Keluarga Langsung Meradang: Hukum Berat

Mudah Banget, Begini Cara Mengecek Apakah Nama Kamu Sudah Masuk DPT Pemilu 2019 Lewat Online

Peran Petugas KPPS Paling Vital Sukseskan Pemilu di TPS, Segini Rincian Lengkap Honor yang Diterima

"Demokrat minimal bisa bertahan di perolehan kursi 2014, meski peluang menambah kursi cukup terbuka pula," ujar Surokim di Surabaya, Senin (15/4/2019).

Menurut Surokim, Jatim adalah basis kekuatan Partai Demokrat secara nasional. Oleh karena itu AHY berulang kali mendatangi wilayah Jatim untuk menyapa masyarakat agar suara Demokrat di Jatim tetap utuh.

"Jatim itu representasi suara nasional Partai Demokrat. Sehingga,  AHY tidak bisa mengabaikan Jatim. Kalau AHY mengabaikan Jatim, maka sama saja ikut mendorong Demokrat terjun bebas di Pemilu 2019,"  ulasnya.

Lebih lanjut Dekan Fisib UTM ini menjelaskan, nama Ketua DPD Demokrat Jatim, Soekarwo (Pakde Karwo), dan Kader Demokrat lainnya, Emil Dardak, bersama AHY, akan menjadi Trisula kekuatan Demokrat dalam memdongkrak suara partai Demokrat.

Mereka sangat mumpuni dalam mendulang suara partai termasuk merebut swing voter. 

"AHY dan Emil itu bisa menjadi representasi pemilih millenial. Sedangkan Pakde Karwo untuk membidik pemilih mapan (baby boomer)," jelasnya.

Menurutnya, hal itu harus didukung oleh situasi politik nasional. Sekalipun, hampir semua parpol peserta pemilu 2019 saat ini hanya berharap coattail effect dari Pilpres. 

KPU Sumenep Kebut Pengiriman Logistik Pemilu 2019 ke Kepulauan Dua Hari Menjelang Pencoblosan

BTS Resmi Jadi Artis Pertama di Dunia Pecahkan Rekor Penonton YouTube Tercepat Lewat MV Boy With Luv

"Saya kira pilihan Demokrat sudah tepat dengan tidak terlalu 'vulgar' masuk ke ranah Pilpres. Sebab suara Demokrat terbelah. Sehingga, kalau memilih salah satu bisa rugi sendiri," tegasnya.

Surokim menilai pemilu 2019 adalah ujian berat bagi Partai Demokrat. Mengingat, coattail effect dari Pilpres yang bersamaan dengan Pileg sulit mereka dapatkan. 

"Kunci Partai Demokrat bisa bertahan menjadi partai kelas menengah bergantung pada daya juang dan kreativitas caleg dan tokoh-tokoh lokal yang dimiliki," katanya.  

"Khusus Jatim, kalau suara nasional turun, maka tidak dengan Jatim. Saya kira Demokrat di Jatim akan bertambah suaranya nanti. Ini berkat tokoh lokal Demokrat yang masih mengakar," pungkasnya. (Bobby Koloway)

Penulis: Bobby Koloway
Editor: Aqwamit Torik
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved