Berita Sumenep

Musim Kemarau Datang, Sebanyak 54 Desa di Sumenep Terancam Kekeringan

Musim Kemarau Datang, Sebanyak 54 Desa di Kabupaten Sumenep Madura Terancam Kekeringan dan Dipelototi BPBD.

Musim Kemarau Datang, Sebanyak 54 Desa di Sumenep Terancam Kekeringan
TRIBUNMADURA/ALI HAFIDZ SYAHBANA
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep, Abd Rahmad Riyadi. 

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Ali Hafidz Syahbana

TRIBUNMADURA.COM, SUMENEP - Musim kemarau sudah masuk sejak bulan Mei 2019 lalu. Diprediksi sejumlah wilayah di Kabupaten Sumenep Madura akan mengalami kekeringan.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep, Abd Rahmad Riyadi.

Menurutnya, sesuai data BPBD Sumenep, terdapat sebanyak 54 desa masuk katagori rawan. Rinciannya, 27 Desa yang rawan kekeringan, 10 desa masuk kekeringan kritis dan 17 desa masuk zona kekeringan langka.

Untuk mengantisipasi kebutuhan air, BPBD menghimbau kepada kepala desa agar berkoordinasi dengan desa lain untuk mengantisipasi kekurangan air.

“Setidaknya kepala desa bersinergi dengan desa tetangga untuk mengatasi kekeringan dan kekurangan air, hal itu merupakan program jangka panjang, sedangkan program jangka pendek pihak kami, akan mensuplai air,” katanya, Selasa (25/6/2019).

Jelang Putusan MK Soal Sengketa Hasil Pilpres, Dandim Sumenep Himbau Warga Menolak Segala Kerusuhan

Pemilik Pulas Tidur, Rumah Gudang Mebel di Pamekasan Ludes Terbakar, 3 Motor & Tumpukan Uang Amblas

Sementara untuk pemenuhan terhadap pelaksanaan kegiatan Program penanggulangan kekeringan kata Rahman, bisa menggunakan dana desa (DD).

Karena sesuai aturan, dana desa bisa digunakan untuk penanggulangan bencana salah satunya kekeringan.

Pasalnya, sesuai Permendes (Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi) itu dana desa boleh digunakan untuk bencana.

Kata Abd Rahmad Riyadi, bisa bekerja sama antar desa dengan pengadaan tandon air.

Karena dalam kajian sebelumnya apabila pendistribusian memakai manual semisal, memakai drigen saat pendistribusian air kedesa sangat lambat sekali.

“Pemakaian tandon, akan lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan pendistribusian air melalui tangki, paling tidak membutuhkan 15 menit sudah selesai apabila pakai tandon," jelasya.

Selain ada upaya membantu antar desa, juga bisa dijadikan sebagai sumber pendapatan desa melalui PADes (Pendapatan Asli Desa), dengan segala pengaturannya melalui APBDes (Anggaran Pendapatan Belanja Desa).

Incar Mahasiswa UTM, Begal Motor Sadis Kembali Beraksi di Bangkalan dan Bacok Kepala Mahasiswi

Pencarian Korban Hilang Kapal Arim Jaya Tenggelam di Sumenep Dihentikan, Satu Orang Belum Ditemukan

Menjelang Putusan Sidang MK, Inilah Prediksi Jitu Para Pengamat Terkait Sengketa Hasil Pilpres 2019

Penulis: Ali Hafidz Syahbana
Editor: Mujib Anwar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved