Breaking News:

Berita Jatim

Harga Bawang Merah di Jawa Timur Anjlok dan Hancur Dalam Beberapa Minggu Terakhir ini

Harga Bawang Merah di Jawa Timur Anjlok dan Hancur Dalam Beberapa Minggu Terakhir ini.

TRIBUNMADURA.COM/ACHMAD AMRU MUIZ
Petani bawang merah di Nganjuk siap menjual hasil panennya ke pasar. Sayang, harga bawang merah di Jawa Timur dalam beberapa minggu terakhir ini anjlok dan hancur. 

Harga Bawang Merah di Jawa Timur Anjlok dan Hancur Dalam Beberapa Minggu Terakhir ini

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Harga bawang merah di Jawa Timur anjlok beberapa pekan terakhir.

Di Pasar Pakis, Surabaya harga bawang merah yang biasanya dijual Rp 25 ribu per kilogram turun menjadi Rp 16 ribu per kilogram

Sedangkan di Mojokerto, harga bawang merah ditingkat petani turun dari Rp 8.000 ribu per kilogram ke Rp 6.000 ribu per kilogram.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur, Hadi Sulityo mengklaim anjloknya harga bawang merah terjadi karena over supply di sentra-sentra produksi bawang merah.

"Di Nganjuk yang merosot. Di Nganjuk kelebihan pasokan, karena di Nganjuk sentranya. Kami sudah cek kabupaten sekitarnya harga normal," ujar Hadi, Senin (16/9/2019).

Untuk menstabilkan kembali harga, Pemprov Jatim melakukan pemerataan dengan mendistribusikan bawang merah ke sejumlah daerah yang tidak menjadi sentra produksi.

"Kami sudah koordinasi dengan Disperindag Jawa Timur supaya yang di Nganjuk didistribusikan di kabupaten sekitarnya. Ini masih dikoordinir oleh Disperindag Jatim," jelas Hadi.

Hadi mengakui, anjloknya harga bawang merah selalu terjadi setiap tahun di sentra produksi ketika panen raya.

"Petani berbondong-bondong menanam bawang merah dan hasilnya bagus. Mereka tidak memperhitungkan kelebihan suplai, sehingga tidak bisa dijual ke pasar," ucapnya.

Kondisi seperti itu terjadi tak hanya pada bawang merah, tetapi juga komoditas lain seperti cabai rawit.

"Tahun lalu cabai rawit harganya bagus. Petani tanam cabai rawit semua, akibatnya harga anjlok tahun ini," ungkapnya.

Untuk meminimalisasi hal tersebut, Dinas Pertanian dan Ketanahanan Pangan Jawa Timur melakukan pemetaan tanaman hortikultura agar petani tidak terkosentrasi untuk menanam satu jenis tanaman hortikultura saja.

"Harus lebih beragam lagi. Sehingga ketika panen raya bisa lebih terkontrol. Ada petanya," pungkasnya.

Penulis: Sofyan Candra Arif Sakti
Editor: Mujib Anwar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved