MUI Jatim Tak Anjurkan Salam Lintas Agama, PW Muhammadiyah Jatim Merespon Berbeda, ini Alasannya

PW Muhammadiyah Jawa Timur menilai salam lintas agama tidak menjadi masalah jika disampaikan oleh pejabat dalam acara-acara resmi.

Wikipedia.org
Logo Muhammadiyah 

MUI Jatim Tak Anjurkan Salam Lintas Agama, PW Muhammadiyah Jatim Merespon Berbeda, ini Alasannya

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - PW Muhammadiyah Jawa Timur menilai salam lintas agama tidak menjadi masalah jika disampaikan oleh pejabat dalam acara-acara resmi.

Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim, Nadjib Hamid mengungkapkan salam lintas agama tersebut bisa diucapkan sejauh dimaksudkan untuk saling menyapa dan tidak masuk ke wilayah aqidah.

"Kalau sepanjang seremonial belaka tidak apa-apa, memang tidak nyaman bagi orang-orang tertentu menggunakan salam itu tapi anggap saja lah itu salam seperti menyapa biasa, tidak ada hubungannya dengan aqidah," ucap Nadjib, Senin (11/11/2019).

Di sisi lain, umat Islam pun juga tidak diharuskan untuk mengucapkan salam Nusantara tersebut.

Demi Kepuasan Nafsu, Mahasiswa Pasang Kamera Mini di Toilet Wanita, Mahasiswi Sempat Curiga

Setelah Senggol Pengendara Honda Beat Hingga Jatuh dan Luka Parah, Mobil Toyota Avanza Malah Kabur

Sempat Mengira Menginjak Balok Kayu, Ternyata Seekor Buaya, Pertarungan Hidup dan Mati Terjadi

"Tidak usah ada keharusan tapi juga tidak usah ada larangan-larangan. Sekadar saling bertegus sapa," lanjutnya.

Seperti dikabarkan sebelumnya, Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menyerukan kepada umat islam dan kepada pemangku kebijakan agar tidak menggunakan salam lintas agama termasuk dalam sambutan-sambutan di acara resmi.

MUI Jatim menyarankan agar pejabat mengucap salam pembuka sesuai dengan ajaran agama masing-masing.

Menurut Ketua Umum MUI Jatim, KH Abdushomad Buchori, salam merupakan merupakan suatu bentuk doa dan doa adalah ibadah.

"Sehingga kalau saya menyebut assalamualaikum itu doa semoga Allah SWT memberi keselamatan kepada kamu sekalian dan itu salam umat Islam," ujar Abdushomad, Minggu (10/11/2019).

Abdushomad menjelaskan, menggunakan salam campuran sama saja dengan mencampuradukkan agama.

"Pluralisme agama itu tidak boleh. Saya terangkan di dalam tausyiah agama itu tidak boleh. Karena agama itu eksklusif, karena keyakinan itu adalah sistem, agama itu sistem keyakinan dan agama punya sistem ibadah sendiri-sendiri," ucap Abdushomad.

MUI Jatim Tak Anjurkan Salam Lintas Agama, KH Abdushomad: Agama itu Eksklusif

Sempat Mengira Menginjak Balok Kayu, Ternyata Seekor Buaya, Pertarungan Hidup dan Mati Terjadi

Penulis: Sofyan Candra Arif Sakti
Editor: Aqwamit Torik
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved