Berita Kediri

Hamil Duluan Korban Perbuatan Pria Dewasa, Sebanyak 23 Gadis Muda Kota Kediri Gelar Pernikahan Dini

Hamil Duluan Korban Perbuatan Pria Dewasa, Sebanyak 23 Gadis Muda Kota Kediri Gelar Pernikahan Dini.

Penulis: Didik Mashudi | Editor: Mujib Anwar
istimewa via TribunJabar
Ilustrasi - Hamil Duluan Korban Perbuatan Pria Dewasa, Sebanyak 23 Gadis Muda Kota Kediri Gelar Pernikahan Dini 

Hamil Duluan Korban Perbuatan Pria Dewasa, Sebanyak 23 Gadis Muda Kota Kediri Gelar Pernikahan Dini

TRIBUNMADURA.COM, KEDIRI - Ada persoalan krusial terkait maraknya fenomena pernikahan dini yang melibatkan anak- anak di Kota Kediri.

Selama tahun 2019 ditemukan sebanyak 23 kasus anak di bawah umur alias gadis muda di Kota Kediri yang terlibat pernikahan dini.

Ulul Hadi, pegiat Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Kediri menyebutkan, kasus anak di bawah umur atau gadis muda terlibat pernikahan dini akibat mengalami kehamilan alias hamil yang sebenarnya tidak dikehendaki.

"Mereka adalah korban kekerasan seksual terhadap anak dengan pelaku mayoritas sudah berusia di atas 18 tahun atau sudah dewasa," ungkap Ulul Hadi kepada Surya (Grup Tribunmadura.com ), Rabu (20/11/2019).

Dari 23 kasus pernikahan anak, tersebar pada tiga kecamatan di Kota Kediri.

Di antaranya, Kecamatan Kota ada 3 kasus, Kecamatan Mojoroto 5 kasus dan Kecamatan Pesantren ada 15 kasus.

Ulul Hadi memprediksi, jumlah kasus yang ditemukan ini sebagai fenomena gunung es.

6 Wanita Muda di Pamekasan Tidur Sekamar di Kos Pria saat Satpol PP Gelar Razia, Inilah yang Terjadi

Ketakutan Kamar Kos Dengan Cowoknya di Tuban Dirazia, Perempuan Muda ini Sembunyi di Balik Lemari

Karena data kasus itu bersumber dari mereka yang mencatatkan diri secara resmi pada kantor KUA alias menikah secara resmi.

"Kemungkinan besar di masyarakat masih ada anak-anak yang terlibat pernikahan tanpa di catatkan di KUA alias dinikahkan secara sirri," tambahnya.

Diungkapkan, fenomena pernikahan anak di bawah umur ini jelas terjadi berbagai pelangaran hak- hak anak.

Karena anak terampas haknya untuk bermain dan memanfaatkan waktu luang sesuai perkembangan usianya.

"Mereka yang sudah menikah sibuk melayani suaminya dan jika sudah memiliki bayi, pasti disibukkan merawat bayinya sehingga waktu untuk bermain, bertemu teman- teman sebayanya akan terabaikan," jelasnya.

Selain itu anak rawan terampas haknya untuk mendapatkan pendidikan.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved