Breaking News:

Jalan Kaki Ngawi-Surabaya, Anggota Banser Ingin Sampaikan Pesan Ibunya ke Gubernur Jatim Khofifah

Amas ingin menyampaikan pesan dari ibunya yang merupakan anggota Muslimat Ranting Bangunrejo Kidul, Kedunggalar, Kabupaten Ngawi.

Penulis: Sofyan Candra Arif Sakti | Editor: Aqwamit Torik
istimewa
Anggota Banser asal Ngawi, Amas Ayudianto, berjalan kaki dari Ngawi hingga Surabaya untuk bertemu Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa 

Jalan Kaki Ngawi-Surabaya, Anggota Banser Ingin Sampaikan Pesan Ibunya ke Gubernur Jatim Khofifah

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Seorang anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser), Amas Ayudianto nekat jalan kaki dari Jalan Gubernur Suryo, Ngawi menuju Gedung Negara Grahadi di Jalan Gubernur Suryo, Surabaya.

Aksi tersebut ia lakukan demi bisa bertemu dengan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU.

Amas ingin menyampaikan pesan dari ibunya yang merupakan anggota Muslimat Ranting Bangunrejo Kidul, Kedunggalar, Kabupaten Ngawi.

"Saya ini dapat amanah dari ibu untuk disampaikan langsung kepada Ibu Khofifah sebagai Ibunya Muslimat sekaligus Ibunya warga Jawa Timur. Karena saya tidak punya uang, maka saya putuskan berjalan kaki dari Ngawi menuju Surabaya," ujar anggota Satkoryon Banser Kedunggalar, Ngawi itu Kamis (21/11/2019).

Selain alasan biaya, ia memutuskan berjalan kaki dari Ngawi menuju Surabaya adalah sebagai bagian syi'ar sebagai kader NU dan melakukan dakwah dengan membawa bendera merah putih dan bendera NU.

Sepanjang perjalanan dari Ngawi menuju Surabaya, masyarakat yang ia lalui selalu menyambut hangat.

Beberapa kali Amas menerima bekal makanan dan minuman selama perjalanan, bahkan di Jombang ada warga yang dengan sukarela memijat dirinya.

Amas yang berjalan mulai Senin (18/11/2019) pagi, sudah mencapai Kota Mojokerto pada Kamis (21/11) pagi.

Diprediksi, paling lambat Jumat (22/11) pagi, ia sudah sampai di Gedung Negara Grahadi yang merupakan tujuan akhirnya.

Dalam perjalanan yang menempuh jarak sekitar 200 KM itu, Amas memilih banyak berjalan malam hari hingga Shubuh.

Sementara pagi hingga siang hari ia gunakan untuk beristirahat.

Ia kembali berjalan pada sore hari ketika matahari mulai ke arah Barat.

"Kiai saya menyarankan agar saya berjalan kaki di malam hari. Karena saat malam itu cuacanya adem dan tidak terganggu dengan padatnya lalu lintas. Alhamdulillah sejauh ini tidak ada kendala, hanya kaki saja yang lecet," pungkasnya.
 

Curiga Alarm Ponsel Tak Berdering, Pria Blitar Terbangun dari Tidur, Kaget Lihat Jendela Rumahnya

Siswi SD Berhasil Kabur dari Penculikan, Sempat Makan Bekal dan Pulang, Ibu Kaget Gelagat Putrinya

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved