Breaking News:

Bermula dari WhatsApp, Kisah Tragis Tangan Anak Dipanggang Ibu Tirinya Terbongkar: Saya Gak Bandel

Caranya yaitu memanggang kedua tangan anaknya di atas kompor yang sedang menyala. Selain itu, akibat kejadian tersebut, korban mengalami trauma.

shutterstock.com
Ilustrasi kekerasan anak 

AM kini dirawat oleh Rosita (30) di Bakung, Kecamatan Telukbetung Timur.

Rosita merupakan adik ibu kandung AM yang meninggal 3 tahun silam akibat mengidap penyakit kanker rahim.

Rosita juga yang melaporkan kejadian nahas tersebut ke pihak kepolisian.

"Bapaknya ngotot minta jangan dilaporin. Saya kasihan sama AM, takutnya nanti lebih parah dari ini," kata Rosita.

Postingan WhatsApp

Rosita (30) menceritakan, ia mengetahui kejadian yang menimpa keponakannya itu setelah beberapa hari kemudian.

Ia dapat kabar itu dari postingan WhatsApp tetangga korban.

"Dia (ayah korban) tidak memberi kabar sama sekali. Empat hari setelah kejadian saya lihat Ani (tetangga korban) buat status di WA, ya saya kaget," ujar Rosita, Rabu (11/12/2019).

Setelah melihat postingan itu Rosita langsung menjenguk korban.

Rosita pun berinisiatif merawat keponakan setelah melihat kondisi telapak tangan melepuh dan tak ada yang merawatnya.

Rosita menceritakan, pasca meninggalnya ibu kandung korban 3 tahun silam ia menitipkan keponakannya itu kepada salah satu tetangga yang dapat dipercaya.

Ia berpesan kepada tetangga tersebut untuk memantau keseharian AM.

Ayah kandung AM, Karmin, menuturkan, saat itu ia tidak punya uang untuk biaya berobat.

Ia menjual satu-satunya tabung gas yang dimiliki untuk mengobati AM.

Dia mengaku, AM sudah diobati dua kali di bidan.

Kini telapak tangan AM sudah berangsur pulih.

Hanya tangan kanan yang masih perawatan.

Ia mengatakan, sebenarnya tak ingin memperkarakan istri keduanya itu.

Pasalnya, mereka memiliki dua anak yang masih kecil.

Ia hanya berharap ada keringanan hukuman. Mengingat ada dua balita yang perlu diasuh oleh istrinya.

Prihatin

Atas kasus ini, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kabupaten Pesawaran akan berkoordinasi dengan UPTD Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Lampung.

Kepala Dinas PPPA Pesawaran Binarti Bintang mengatakan, koordinasi untuk meminta psikolog guna melihat sejauh mana trauma yang terjadi pada AM (10).

"Tadinya mau kami bawa ke rumah aman, ternyata pengasuhannya sudah diambil keluarga. Tapi kita akan mengecek lagi. Apakah pengasuhannya sesuai atau tidak. Supaya jangan terjadi kekerasan lagi," ujar dia.

Binarti mengatakan, perkara kekerasan anak kali ini merupakan kasus yang menonjol.

Sebelumnya, tidak ada kasus seperti itu. Binarti mengaku telah melakukan upaya PATBM (Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat). Sehingga masyarakat itu sebagai pelapor dan terlapor.

Fasilitator Kota Layak Anak (KLA) Provinsi Lampung Toni Fiser menyatakan, korban perlu mendapatkan bimbingan dari psikolog.

Itu perlu dilakukan untuk mencegah dampak trauma berkepanjangan.

"Minimal dengan cara sedini mungkin untuk dipisahkan antara anak ini dengan ibu tirinya," ungkap Toni, Rabu (11/12/2019).

Sebagai Relawan Komnas Perlindungan Anak Provinsi Lampung, dirinya mengaku miris mendengar kabar tersebut.

Ia menilai ibu tiri yang telah ditetapkan tersangka tidak memahami hakikat sebagai seorang ibu.

Toni juga menyarankan kepada pihak keluarga agar segera menangani masalah psikis anak. Jika lambat ditangani, lanjut Toni, akan berpengaruh terhadap masa depan sang anak.

"Dia ini sudah masuk tahap Delay Trauma. Kalau dibiarkan begitu saja, bukan tidak mungkin anak ini akan membenci atau anti terhadap perempuan dewasa," jelasnya.

Tegakkan Hukum

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendorong penegakan hukum kasus ibu panggang tangan anak ini.

"KPAI prihatin dengan peristiwa seperti ini. Ini kan soal pengasuhan. Banyak seorang ibu kandung tega membunuh anaknya sendiri dan memukuli anaknya. Artinya ada masalah dengan pengasuhan," kata Komisioner KPAI Pusat Retno Listyarti.

KPAI akan mendorong agar ibu yang telah menyiksa anaknya tidak kembali mengasuh anak tersebut.

Sebab, bisa jadi sang ibu memiliki masalah psikologis.

Untuk itu, sang ibu harus menjalani rehabilitasi P2TP2A, sehingga tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Terkait trauma healing terhadap anak, Retno mengatakan, anak terlebih dahulu mendapat rehabilitasi medis dari pemerintah daerah.

Setelahnya rehab psikologis trauma.

Selanjutnya memastikan sang anak aman selama pengasuhan. (Tribunlampung.co.id/Robertus Didik Budiawan/Kiki Adipratama/Hanif Mustafa)

Artikel ini telah tayang di tribunlampung.co.id dengan judul Kejamnya Ibu Tiri di Lampung, Panggang Tangan Anak di Atas Kompor hingga Melepuh

Editor: Aqwamit Torik
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved