Keraton Sejagat hingga Sunda Empire Muncul, Pakar Psikologi: Masyarakat 'Sakit' Ingin Sukses Instan

Munculnya kerajaan fiktif mulai dari Keraton Agung Sejagat hingga Sunda Empire, Pakar Psikologi menilai masyarakat 'sakit' dan ingin sukses instan

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Mujib Anwar
Kolase Tribunmadura.com (Sumber: TribunJateng dan Youtube TV One)
Raja Keraton Agung Sejagat Totok Santosa dan Petinggi Sunda Empire Rangga Sasana 

Dampak bagi kelompok penganut kerajaan ini bukan pada membahayakan diri.

Suzuki Swift Berhenti di Pinggir Jalan, Wanita Bangkalan ini Ditangkap Polisi: Isi Dompet jadi Saksi

RESMI Mulai Sabtu 1 Februari 2020 Layanan WhatsApp Tak Bisa Lagi Dipakai di HP Android dan iOS Lawas

Rangga Sasana Petinggi Sunda Empire dan ilustrasi bom nuklir
Rangga Sasana Petinggi Sunda Empire dan ilustrasi bom nuklir (Kolase TribunMadura (Sumber: YouTube Kompas TV dan The Nuclear Secrecy Blog))

Melainkan justru membangun rasa untuk mendapatkan keuntungan dari adanya kerajaan fiktif ini.

"Apalagi jika dilihat secara global, masyarakat yang tergabung di dalamnya berada dalam kondisi ‘sakit’," tegasnya.

Dengan kata lain, lanjut Andik Matulessy, mereka ingin mendapatkan sesuatu dengan cepat.

Termasuk kesuksesan dengan instan.

Hampir semua kelompoknya merasa tidak tertipu.

Mereka yang tergabung tipikal masyarakat yang kurang percaya pada pemimpinnya.

Kemudian raja ini memunculkan sosok yang disukai oleh banyak orang.

Dengan menjanjikan sesuatu pada masyarakat.

Video Parodi Kocak MotoGP dengan Kearifan Lokal di Riau, Membuat Akun Twitter Resmi MotoGP Ngakak

Modal Korek Api, Sindikat Curanmor di Pulau Kangean Madura ini Dengan Mudah Curi Trail Kawasaki KLX

Raja Keraton Agung Sejagat Gaji Pengikut Hingga Rp 2,7 Juta, Terungkap dari sini Sumber Mesin Uangnya
Raja Keraton Agung Sejagat Gaji Pengikut Hingga Rp 2,7 Juta, Terungkap dari sini Sumber Mesin Uangnya (IST/Facebook)

Ditambahkan, kelompok yang terlibat dalam hal ini kebanyakan mengalami frustasi akan dirinya atau karena faktor eksternal.

Dan media sosial dimanfaatkan sebagai wahana untuk meyakinkan seseorang.

Kerajaan fiktif ini banyak menggaet masyarakat di daerah pedalaman dengan kondisi pendidikan yang relatif rendah.

Sehingga, kelompok tersebut akan mudah tercuci otaknya.

Fenomena dan kemunculan kerajaan-kerajaan fiktif ini hampir bersamaan, karena mengangkat isu tentang sejarah kerajaan lebih menarik.

Halaman
123
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved