Ikon Gerbang Salam Pamekasan Dituding Jadi Alat Politik

Sebagian kalangan pemuda di Pamekasan menghendaki agar jargon Pamekasan sebagai Kota Gerbang Salam dihapus atau Gerbang Salam dijadikan roh pendidikan

TRIBUNMADURA.COM/MUCHSIN RASJID
Bupati Pamekasan, Baddrut Tamam, menerima cendera mata berupa lukisan dirinya, karya santri Ponpes Bata-Bata, yang diserahkan oleh sesepuh FAJP, Amiril. 

TRIBUNMADURA.COM, PAMEKASAN – Ajakan moral Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami atau Gerbang Salam menjadi ikon di Pamekasan.

Hingga ditudung banyak digunakan sebagai alat kepentingan politik untuk memvonis pemimpin di Pamekasan yang dianggap gagal atau tidak.

Oleh karena itu, sebagian kalangan pemuda di Pamekasan menghendaki agar jargon Pamekasan sebagai Kota Gerbang Salam dihapus atau Gerbang Salam dijadikan roh pendidikan.

Meskipun Gerbang Salam bukan meruapakan Peraturan Daerah (Perda) atau Peraturan Bupati (Perbup) Pamekasan, namun dalam penerapannya melebihi Peraturan Daerah.

Penilaian ini terungkap dalam seminar nasional dengan tema Yang Muda Membangun Pamekasan, yang digagas Forum Alumni Jogja Pamekasan (FAJP) di sebuah hotel di Jl Raya Panglegur, Pamekasan, Minggu (8/3/2020).  

Wajib Pajak di Sampang Belum Semuanya Lapor SPT, Berikut Denda Bagi yang Telat Melapor

Tingkatkan Geliat Literasi di Sampang, DPMD Arahkan 140 Desa Membentuk Perpustakaan Desa

Berstatus Tim Promosi, Persiraja Banda Aceh Bertekad Lanjutkan Tren Positif di Liga 1 2020

Hadir di antaranya Bupati Pamekasan, Baddrut Tamam. M Ali Hisam, dosen Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Ubaidillah, anggota DPRD Jatim, tokoh masyarakat, ulama, mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Pamekasan dan sejumlah sesepuh FAJP.

Ketua Padepokan Raden Umro, Sumber Anyar, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, Habibullah Bahwi, menilai sebenarnya Gerbang Salam itu baik, namun selama ini ikon Gerbang Salam telah disalah artikan dan dijadikan senjata politik oleh sekelompok tertentu.

Dikatakan, selama ini ia membuat kajian terhadap penerapan Gerbang Salam di Pamekasan dan melakukan langkah bersama Gusdurian dan Pamekasan bergerak. Seharusnya Gerbang Salam itu hanya bersifat ajakan moral saja kepada masyarakat Pamekasan, tapi tapi kenyataanya dipaksakan diri, sehingga aparat keamanpun di Pamekasan tidak berdaya menghadapinya.

“Pertanyaan besar bagi kami, apa kontribusi Gerbang Salam terhadap Pamekasan selama ini. Tolong para akademisi dan semua yang hadir di sini untuk mengkaji bersama. Karena, bila Gerbang Salam dijadikan alat politik, maka akan merusak tantanan di Pamekasan,” ujar Habibullah Bahwi.

Wakil Kepala Bidang (Wakabid) Hukum dan HAM, DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jawa Timur, Nur Faisal mengungkapkan, sampai saat ini Gerbang Salam itu tidak ada petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) khusus. Karena konteknya hanya gerakan moral dan imbauan saja.

Viral Video TKI Korsel Tahu Istri Selingkuh Hancurkan Rumah di Ponorogo, Padahal 15 Tahun Menikah

Halaman
12
Penulis: Muchsin Rasjid
Editor: Elma Gloria Stevani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved