Breaking News:

Prabowo Subianto Figur Tak Terganti, Gerindra Jatim akan Dukung Prabowo Kembali Jadi Ketua Gerindra

Menurut Gerindra Jatim, Prabowo Subianto merupakan figur yang sulit dicari penggantinya. Kesuksesan Gerindra juga tak lepas dari peran Prabowo

Penulis: Bobby Koloway | Editor: Aqwamit Torik
TRIBUNMADURA/KUSWANTO FERDIAN
Prabowo Subianto saat pidato di Ponpes Mambaul Ulum Bata-bata Pamekasan(26/2) 

Mengutip Tribun Jambi via Sosok.ID (grup Tribunmadura.com ), banyak publik percaya kecakapan Soeharto di bidang kemiliteran ditunjang oleh kekuatan magis yang dipercaya dimilikinya.

Suatu hari ketika Prabowo Subianto masih menjadi menantu Soeharto, ia dipanggil menghadapnya.

Hal ini lantaran Prabowo Subianto hendak memimpin operasi militer di medan perang untuk mengalahkan musuh negara.

"Saat itu, saya sedang dihadapkan pada operasi penting.

Saya diminta untuk menghadap Pak Presiden," kata Prabowo Subianto dalam Rakornas PKS Januari 2016 silam.

Dalam benak Prabowo yang kala itu masih berdinas militer di TNI, ia bakal mendapat Sangu (bekal) dari Soeharto.

"Ketika itu, di benak saya disuruh menghadap pasti dapat sangu dari mertua," tambahnya.

Ketika sudah sampai di kediaman Soeharto, pikiran Prabowo Subianto langsung berubah.

Ia memang diberi ' jimat ' berupa petuah khusus dari Soeharto.

"Kata Bapak saat itu, saya titip tiga hal, yakni ojo lali (jangan lupa), ojo dumeh (jangan angkuh), ojo ngoyo (jangan ambisius)," beber Prabowo Subianto, yang juga mantan Pangkostrad TNI AD ini.

"Mengerti? Saya jawab, siap mengerti. Kemudian beliau menjawab, ya sudah selamat bertugas.

Jadi sangu saya tiga hal itu, saya tadi berharap dapat sangu ongkos," kata Prabowo Subianto bercanda.

Saat masih menjabat sebagai presiden, Soeharto ternyata pernah meramalkan kondisi yang akan dialami oleh Indonesia pada abad 21.

Itu seperti yang terdapat dalam buku "Sisi Lain Istana Dari Zaman Bung Karno sampai SBY", karangan J Osdar.

Dalam buku yang terbit pada tahun 2014 itu, Osdar mengungkapkan jika ramalan tersebut disampaikan Soeharto pada 5 September 1996.

Tepatnya, saat menyampaikan pidato pembukaan Pekan Kerajinan Indonesia ke-7, di Istana Negara, Jakarta.

Saat itu, Soeharto meramalkan pada abad ke-21 peranan utama dalam kehidupan, dan pembangunan bangsa Indonesia terletak di tangan rakyat.

"Beberapa tahun lagi abad ke-20 akan kita tinggalkan dan kita akan memasuki abad ke-21.

Berbeda dengan abad ke-20, abad ke-21 yang akan datang adalah zaman yang mengharuskan semua bangsa meningkatkan kerja sama yang erat.

Di lain pihak, juga merupakan zaman yang penuh dengan persaingan yang ketat," tulis Osdar menirukan ucapan Soeharto saat itu.

Lebih lanjut, menurut Soeharto saat itu pada tahun 2003 kawasan Asia Tenggara akan menjadi kawasan perdagangan bebas.

Selain itu, pada tahun 2010, kawasan Asia Pasifik akan membuka diri bagi masuknya barang dan jasa dari negara-negara berkembang sebagai wujud kerja sama APEC.

"Tahun 2020 kita harus membuka lebar-lebar pasar kita bagi produk-produk negara maju.

Perkembangan ini akan membawa pengaruh besar bagi kehidupan dan pembangunan bangsa kita," kata Soeharto.

Soeharto seolah ingin menunjukkan pentingnya mengembangkan industri kecil dan kerajinan rakyat untuk menghadapi abad ke-21.

Namun, dalam kenyataannya Soeharto jatuh sebelum memasuki abad ke-21.

Terkait dengan buku tersebut, pengamat buku Sukardi Rinakit menyatakan ramalan Soeharto itu benar adanya.

Menurutnya, krisis segala bidang pada tahun 1998 telah mencapai puncaknya.

Namun, ekonomi bisa selamat karena kreativitas rakyat dalam usaha kecil dan menengah.

"Krisis ekonomi 1998 teratasi karena kreativitas rakyat dalam usaha kecil dan menengah lagi. Berkat penyelamatan itu, usaha besar juga bisa tumbuh," ujar Sukardi.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved