Breaking News:

Virus Corona di Jawa Timur

Diabetes Jadi Penyakit Penyerta Tertinggi Pasien Virus Corona di Jawa Timur yang Meninggal Dunia

Kasus positif virus corona di Jawa Timur yang meninggal dunia ada sebanyak 88 orang

TRIBUNMADURA.COM/FATIMATUZ ZAHROH
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama forkopimda saat melakukan konferensi pers di Gedung Negara Grahadi, Minggu (26/4/2020) 

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa mengungkap, penyebaran Covid-19 atau virus corona di Jawa Timur terus meningkat.

Per Minggu (26/4/2020), total jumlah kasus positif Covid-19 di Jawa Timur mencapai 785 kasus.

Dari jumlah tersebut yang sedang masih dalam perawatan ada sebanyak 557 orang. 

Pedagang Takjil di Kabupaten Malang Boleh Jualan di Pinggir Jalan, Bupati: Asal Jangan Bergerombol

Tak Punya Riwayat Perjalanan Karena Terkendala Kondisi, Nenek di Kota Batu Terjangkit Virus Corona

Peduli Terhadap Sesama, PT Enka Imron Mandiri Bagikan Sembako ke Fakir Miskin dan Janda di Pamekasan

Pasien virus corona yang dinyatakan sembuh atau terkonversi negatif ada sebanyak 140 orang atau setara dengan 17,84 persen.

Sedangkan untuk kasus positif virus corona di Jawa Timur yang meninggal dunia ada sebanyak 88 orang atau setara dengan 11,21 persen. 

“Persentase pasien Covid-19 di Jawa Timur yang meninggal dunia saat ini sudah di atas 10 persen. Sejak itu kita langsung rapat secara sistematis," kata Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi, Minggu (26/4/2020). 

"Ketika persentase yang meninggal makin meningkat, maka kita semakin serius untuk melihat apakah pasien ini meninggal apakah karena penyakitnya atau karena tidak tertangani,” sambung dia.

Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan, setelah dilakukan telaah pasien positif Covid-19 yang meninggal sebagian besar karena memiliki penyakit penyerta.

Akses Masuk TPU Mongging Pamekasan Ditutup saat Pemakaman Warga, Polisi Beri Penjelasan Kronologinya

Penyakit penyerta tertinggi adalah karena diabetes dan penyebab kedua kematian pasien Covid-19 adalah karena keterlambatan di dalam mengakses layanan rumah sakit. 

“Ketika kami dapat konfirmasi ada pasien yang masuk kondisi sudah begini karena keterlambatan mengakses rumah sakit sehingga saat dibawa ke rumah sakit sudah dalam kondisi yang sudah parah,” kata Khofifah. 

Halaman
12
Penulis: Fatimatuz Zahroh
Editor: Ayu Mufidah Kartika Sari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved