Breaking News:

Berita Surabaya

Air Sungai Kalimas Surabaya Tercemar Polusi, Kandungan Klorin hingga Logam Berat Lebihi Batas Normal

Air di Sungai Kalimas Kota Surabaya mengandung klorin yang tinggi, logam berat yang melampaui batas, dan mikroplastik yang meningkat jumlahnya.

ISTIMEWA/TRIBUNMADURA.COM
Peneliti Ecoton, Eka Chlara Budiarti saat melakukan uji kualitas air di Sungai Kalimas, tepatnya di sekitaran Jembatan Petekan, Surabaya, Selasa (7/7/2020). 

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Air di Sungai Kalimas, Kota Surabaya, tercemar.

Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) menyebut, ada peningkatan polusi air selama pandemik Covid-19 di Sungai Kalimas

Ecoton menjelaskan jika polusi itu berasal dari kandungan klorin yang tinggi, logam berat yang melampaui batas, dan mikroplastik yang meningkat jumlahnya. 

Mayat Laki-Laki yang Mengapung di Sungai Kalimas Diduga Seorang Jambret Kabur dari Kejaran Massa

Pesta Miras Berujung Tragedi, 4 Pemuda Trenggalek Ditangkap usai Lakukan Aksi Brutal di Warung Kopi

Ratusan Tambak Udang di Sampang Berpotensi Ditutup Satpol PP, Pemilik Tak Kantongi Izin Usaha

Berdasarkan hasil penelitian Ecoton, kandungan klorin di Sungai Kalimas pada 17 April lalu, ada 0,17 ppm yang kemudian dilakukan uji kualitas air lagi, hasilnya 0,20 ppm. 

“Untuk standar air bersih, klorin tidak boleh lebih dari 0,03 ppm," ujar Peneliti Ecoton, Eka Chalara Budiarti, Rabu (8/7/2020). 

Eka Chalara Budiarti mengatakan, tingginya klorin merupakan indikator tingginya polusi dari kegiatan rumah tangga atau limbah domestik.

Klorin selama ini menjadi bahan utama desinfektan atau pembunuh kuman, pembersih lantai, dan pemutih pakaian.

Bukan hanya klorin, Ecoton juga menemukan tingginya kandungan logam berat di sungai ini.

Setelah Chlara melakukan uji Total Dissolved Solid (TDS) atau ion terlarut dalam air, logam berat di Sungai Kalimas mencapai 3.100 ppm. 

Kasubag Humas Polres Pamekasan Tekankan Pentingnya Pemberitaan kepada Kasi Humas Polsek Jajaran

Pademawu Timur Pamekasan Bakal Jadi Satu-Satunya Desa Mandiri di Madura, Punya Program Pertashop

Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) saat melakukan uji sampel.
Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) saat melakukan uji sampel. (ISTIMEWA/TRIBUNMADURA.COM)

"Standar TDS dalam air sungai tidak boleh lebih dari 500 ppm," kata dia.

"Ini menunjukkan polutan logam berat dalam air Kalimas bagian hilir," tambah alumni Universitas Diponegoro ini.

Kata dia, polusi di Sungai Surabaya rupanya juga dipicu oleh polusi limbah plastik yang meningkat jumlahnya.

Kandungan mikroplastik di Petekan pada penelitian April 2020 lalu menunjukkan jumlah tertinggi jika dibandingkan dengan Mikroplastik di Mlirip, Karang pilang, Joyoboyo, dan kayun. 

Jumlahnya sekitar 2,92 partikel dalam 1 liter air Kalimas sedangkan di Joyoboyo 2,5 Partikel per liter. Kemudian di Mlirip hanya 1,4 partikel per liter. 

"Bahwa dalam rapid test mikroplastik hari ini, ditemukan 10 partikel dalam 100 liter berupa jenis fiber dan jenis filament atau lembaran di Kalimas," kata Chlara.

“Banyaknya jenis fiber menunjukkan bahwa tidak ada control limbah domestik terhadap air bekas cucian atau laundry," jelas dia.

"Karena tekstil yang menjadi bahan pakain kita jika dicuci maka serat tekstil plastiknya akan terlarut dalam air," tambahnya.

"Pemakaian mesin cuci dan detergen yang kuat mempercepat proses rontoknya serat tekstil,” terangnya. 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved