Gilang Fetish Kain Jarik

'Gilang Bungkus' Cumbui Korban Pakai Kain Jarik, Pandemi Picu Pelecehan Seksual Lewat Media Sosial

Gilang merupakan mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Kota Surabaya dan menjadi pusat perhatian karena dituding menjadi pelaku pelecehan seksual.

Istimewa
Adegan film Fifty Shades 

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Gilang merupakan mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Kota Surabaya dan menjadi pusat perhatian karena dituding menjadi pelaku pelecehan seksual.

Namun, pola pelecehan yang muncul kali ini berbeda. Gilang dinilai memiliki fetish membungkus orang lain dengan kain jarik atau kain batik hingga kain tersebut menutupi seluruh tubuh korban.

Itulah kenapa, saat ini sosoknya disebut sebagai "Gilang Bungkus".

Gilang menghubungi para korbannya yang mayoritas merupakan mahasiswa tingkat awal, melaui media sosial.

Namun, siapa sangka jika pandemi Covid-19 yang kini mewabah justru memicu berbagai permasalahan, termasuk meningkatnya kasus pelecehan melalui media sosial.

Ya, pandemi virus corona mengharuskan banyak aktivitas dilakukan di rumah saja.

Padahal, melakukan aktivitas di rumah sepanjang hari membuat banyak orang tidak lepas dari ponsel atau smartphone mereka. 

"Sebelumnya sudah ada prediksi di awal pandemi kemarin bahwa kasus kriminal melalui media sosial akan meningkat, termasuk pelecehan seksual. Karena penggunaan smartphone selama di rumah saja akan mengalami peningkatan," kata Psikologi Klinis dan Forensik Layanan Psikologi Geofira, Riza Wahyuni, S.Psi, MSi, Psikolog.

Psikolog Klinis dan Forensik: Fetish Ambisi Seseorang Melihat Objek hingga Timbul Rangsangan Seksual

Kasus Covid-19 di Kabupaten Trenggalek Melonjak, Gugus Tugas: Check Point Tetap Harus Dipertahankan

Apa Itu Fetish? Bukan Kelainan Seksual, Tapi Penderita Terangsang pada Benda yang Dikenakan Pasangan

Perempuan yang akrab disapa Riza ini menjelaskan, salah satu kasus yang tengah viral di media sosial yakni fetish kain jarik juga menyasar targetnya melalui media sosial.

"Ia (pelaku) juga mendapatkan korban dari media sosial kemudian menghubungi si korban dan melancarkan modusnya dengan dalih penelitian," ujarnya.

Dalam kasus fetish kain jarik, si pelaku mengaku pada korban tengah menjalankan penelitian akademik mengenai respons emosi seseorang ketika barada dalam keadaan ditutup semua tubuhnya dan diikat.

Salah satu korbannya diminta untuk melakukan proses 'bungkus-membungkus' sendiri tanpa kehadiran pelaku. Pelaku hanya memantau lewat ponsel.

"Si korban ini kan tidak mengenal pelaku sebelumnya. Mereka berkenalan lewat platform media sosial. Kemudian disuruh praktik dan foto yang aneh-aneh," Riza mengatakan.

Melihat kondisi tersebut, penggunaan media sosial yang bijak dan berhati-hati terutama pada orang yang baru dikenal menjadi hal yang sangat krusial.

Program Pembinaan dan Pengembangan Kepemudaan di Sampang Ditiadakan, Anggaran Dipangkas Rp 900 Juta

5 Hikmah yang Bisa Diambil dari Momen Rayakan Idul Adha di Tengah Pandemi Menurut Gubernur Khofifah

BREAKING NEWS - Pembacokan Sadis Pegawai di Desa Trapang Sampang, Kepala dan Lengan Luka Parah

"Saya berpesan pada semua orang terutama anak muda supaya bijak bermedia sosial dan jangan mudah percaya pada orang yang baru dikenal. Karena media sosial ini bisa dikamuflase dengan mudah," jelas Riza.

Ia menambahkan jika ada permintaan foto atau video yang tidak wajar dari siapapun jangan dituruti.

"Harus selektif. Bisa saja hal yang dianggap orang banyak itu biasa tapi bagi pelaku kejahatan seksual bisa jadi fetish mereka," tandasya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved