Mengintip Batu Nisan Penuh Ribuan Bekas Ciuman di Paris Prancis, Sosok Tak Biasa Punya Banyak Fans

Sebuah makam di Paris, Prancis menjadi jujukan banyak wisatawan yang singgah di sana. Di makam tersebut terdapat batu nisan yang dipenuhi bekas ciuman

Editor: Aqwamit Torik
AFP Photo/Joel Saget
Batu nisan Oscar Wilde yang dipenuhi ciuman 

Sejak saat itu bekas ciuman menggunakan lipstik merah telah bergabung dengan grafiti merah yang berisi ekspresi cinta, seperti: "Anak liar kami mengingatmu", "Terus memandangi bintang-bintang" dan "Keindahan nyata berakhir di mana kecerdasan dimulai".

Mencium makam Oscar di tempat wisata Paris telah menjadi keharusan bagi wisatawan yang berkunjung ke sana.

Meski ada denda sebesar 9,000 poundsterling setara Rp 112 juta yang dikenakan pada siapa pun yang tertangkap mencium atau merusak monumen bersejarah, namun tampaknya tidak berpengaruh pada para penggemar sang penyair ini.

Sulit untuk menangkap orang dalam tindakan itu, dan sebagian besar penjahat adalah turis yang sudah lama pergi sebelum polisi bisa membawa mereka ke pengadilan.

Seruan dari cucu Wilde, Merlin Holland untuk menghentikan kebiasaan itu juga tak diperdulikan.

Sebuah plakat yang meminta para penggemar untuk menghormati makam itu juga sia-sia dibuat.

Bukan tanpa alasan mengapa Pemerintah setempat melarang kebiasaan ini diteruskan.

Bekas lipstik merah dapat meresap ke dalam batu dan membuatnya sulit dibersihkan.

Selain itu, juga dapat menyebabkan lapisan batu menjadi cepat keropos.

Pada 2011, saat peringatan ulang tahun ke-111 Oscar Wilde, pihak berwenang memasang penghalang kaca di sekeliling makam untuk mencegah pencium menyebabkan kerusakan lebih lanjut.

Namun sekarang turis meninggalkan ciuman di kaca sebagai gantinya dan bunga-bunga dan uang kertas dilemparkan ke dalam kaca dan sekarang berserakan di kaki makam.

Oscar Wilde meninggal karena bangkrut dan kesepian dan teman-temannya hanya bisa menawarkan pemakaman kelas enam di Bagneux, di luar kota Paris.

Selama tahun-tahun berikutnya, temannya dan eksekutor sastra, Robert Ross, berhasil melalui penjualan karya-karya Wilde, untuk membatalkan kebangkrutan Wilde dan membeli sebidang tanah pekuburan di Père Lachaise.

Tahun berikutnya Helen Carew, satu teman Ross yang mengenal Wilde di masa jayanya, secara anonim menawarkan bantuan untuk mendirikan sebuah monumen untuk Wilde yang dibuat oleh pematung muda Jacob Epstein.

Halaman
123
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved