Berita Tulungagung

Respons Bupati Maryoto Birowo soal Dugaan Kasus Warga Tulungagung Jadi Korban Perdagangan Orang

Maryoto Birowo mengaku akan mencari tahu lebih dalam kasus dugaan tindak pidana perdagangan orang itu.

TRIBUNMADURA.COM/DAVID YOHANES
Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo. 

TRIBUNMADURA.COM, TULUNGAGUNG - Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo merespon kabar dugaan warga Kecamatan Ngunut berinisial DK yang menjadi korban tindak pidana perdagangan orang ke Arab Saudi.

Maryoto Birowo mengaku akan mencari tahu lebih dalam kasus dugaan tindak pidana perdagangan orang itu.

"Terkait tindak pidananya, biar kepolisian yang menangani. Tapi sebagai warga Tulungagung, kami akan cari informasi," terang Maryoto Birowo, Jumat (28/8/2020).

Tanda-Tanda Kematian yang Bisa Terjadi pada Manusia, Tidur Lebih Lama hingga Suka Menyendiri

Warga Tulungagung Diduga Jadi Korban Perdagangan Orang, Akui Tidak Bisa Pulang Meski Sedang Sakit

Perubahan Sikap Istri Buat Hendrik Sakit Hati, Sindiran Sang Adik Ipar Nyaris Jadi Pertumpahan Darah

Maryoto Birowo mengaku, akan menugaskan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) ke Kementerian Tenaga Kerja.

Tujuannya untuk melacak dan mencari informasi seputar DK, dan perusahaan penempatannya.

Maryoto akan mengupayakan untuk memulangkannya lewat jalur diplomasi antar negara.

"Kalau yang kita dapat sementara ini kan keterangan sepihak dari korban. Kita belum tahu kondisi sebenarnya," sambung bupati.

Jika informasi soal DK nantinya sudah pasti, Maryoto minta Disnakertrans berkoordinasi dengan Kedutaan Besar di Arab Saudi.

Termasuk mempelajari permintaan mahar 4000 Riyal Saudi oleh majikan DK.

Masih menurut Maryoto, sejauh ini belum ada pengaduan dari keluarga DK.

"Kalau alamat kerjanya sudah jelas kan lebih enak. Kita lihat nanti kondisi sebenarnya," pungkas Maryoto.

Saat ini DK dalam kondisi sakit dan tidak bisa berobat.

Sementara obat yang dijual bebas hanyalah paracetamol.

DK menyatakan ingin pulang, tetapi sang majikan minta tebusan 4000 Riyal Saudi untuk denda visa yang mati dan exit visa.

Pihak perusahaan penempatan sejauh ini tidak mau membayar denda itu. (David Yohanes/day)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved