Breaking News:

Berita Bondowoso

Angka Kasus Perceraian di Bondowoso Melonjak saat Pandemi, Pengadilan Sampai Kewalahan Gelar Sidang

Pengadilan Agama Bondowoso sempat kewalahan menggelar sidang kasus perceraian selama masa pandemi.

marriage.com
ilustrasi 

TRIBUNMADURA.COM, BONDOWOSO - Angka kasus perceraian rumah tangga di Kabupaten Bondowoso meningkat pada masa pandemi Covid-19.

Fenomena perceraian masyarakat di Kabupaten Bondowoso diduga karena faktor ekonomi pada masa pandemi.

Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Bondowoso, Mochammad Nur Prehantoro mengatakan, penyebab perceraian paling banyak karena sang istri tak dinafkahi oleh suaminya.

Pengusaha asal Pamekasan Ajukan Poligami, Merasa Tak Puas Urusan Ranjang dengan Istri Pertama

Kasat Sabhara Polres Blitar AKP Agus Tri Susetyo Mengundurkan Diri, Kapolres Blitar Beri Respons

Makna Hari Kesaktian Pancasila bagi Bupati Pamekasan: Momentum Kembali Bangkitkan Gotong Royong

"Masalah nafkah paling tinggi, bisa jadi karena pengaruh menurunnya pendapatan saat pandemi Covid-19," kata Mochammad Nur Prehantoro, Kamis (1/10/2020).

"Masalah lain yakni perselingkuhan, pertengkaran yang terjadi terus-menerus dan perliku tak baik seperti main judi," sambung dia.

Ia menyebutkan, berdasar data jumlah angka perceraian selama Januari-Agustus mencapai 2.433 perkara.

Rinciannya, cerai gugat sebanyak 1.421 perkara, sementara talak cerai berjumlah 1.012 kasus.

Selama 2019, angka perceraian sedari Januari-Desember berjumlah 1.874 perkara.

Rinciannya, cerai gugat sebanyak 1.319 perkara dan talak cerai 555 kasus.

"Kasus perceraian pada 2020 diprediksi bakal terus menanjak," ungkap dia.

Waspada Penyakit BEF atau Demam 3 Hari pada Sapi, Ini Ciri-ciri Hewan yang Sakit dan Penanganannya

Pergub dan Perda tentang Protokol Kesehatan Covid-19 di Jatim Digugat Warga, Dinilai Rugikan Publik

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved