Berita Bangkalan
Universitas Trunojoyo Madura Jadi Garda Terdepan Tanamkan Nilai-nilai Kebangsaan kepada Mahasiswa
Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menggelar peringatan Sumpah Pemuda dengan Dialog Kebangsaan MPR RI.
Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Ayu Mufidah Kartika Sari
TRIBUNMADURA.COM, BANGKALAN - Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menggelar peringatan Sumpah Pemuda dengan Dialog Kebangsaan MPR RI dalam Rangka Pembukaan PETIK (Pendalaman dan Praktik Kebangsaan) di Gedung Rektorat Lantai 10, Rabu (28/10/2020).
Dalam dialog sekaligus Temu Tokoh Civitas Akademika itu, Universitas Trunojoyo Madura menghadirkan anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, H Achmad Baidowi sebagai pemateri.
Baidowi mengungkap, forum-forum sosialisasi Empat Pilar Kebagsaan seringkali digelar. Namun tidak melibatkan mahasiswa.
"Hadirnya UTM sebagai penyelenggara kegiatan PETIK patut diapresiasi," ungkap mantan Wartawan Koran Seputar Indonesia (Sindo) periode 2006-2013 kepada Surya.
Apresiasi Baidowi kepada Universitas Trunojoyo Madura tidak lepas dari temuan mengejutkan hasil penelitian Setara Institute terhadap sejumlah pelajar Jakarta dan Bandung di tahun 2016.
Ia menjelaskan, sebanyak 11 persen siswa SMA setuju dengan sistem khilafah dan sebanyak 4,5 persen hingga 5 persen menyetujui perubahan dasar ideologi negara.
"Ini kan berbahaya. Kira-kira para pelajar itu saat ini sudah semester VIII di kampus. Jika pemahaman itu masih dipertahankan, maka akan berpengaruh terhadap pola kehidupan berbangsa," jelasnya.
Bahkan, Setara Institute disampaikan Baidowi, menemukan ada pemahaman di beberapa perguruan tinggi negeri yang mentoleransi kelompok-kelompok mengatasnamakan agama.
"Misalkan melarang pendirian tempat ibadah agama tertentu," ujarnya.
Ia menegaskan, kalau mengacu pada hasil penelitan itu maka hal tersebut menjadi warning atau sesuatu yang sangat mengejutkan.
"Karena kampus merupakan tempat terbuka. Semua ideologi bisa dikaji dalam konteks akademis, namun tidak bisa diterapkan," tegasnya.
Dengan sistem mentoring kebangsaan seperti yang digelar UTM, Baidowi berkeyakinan kampus sudah menjadi garda terdepan dalam penanaman nilai-nilai kebangsaaan.
"Maka faham-faham yang ingin mengganti Pancasila, faham-faham yang ingin mengganti dasar negara, ataupun faham yang betentangan dengan Pancasila tidak akan berkembang di Indonesia," terangnya.
Sebagai kampus garda terdepan, UTM bisa bersinergi dan bertanggung jawab terhadap civitas akademikanya. Terutama kepada mahasiswanya untuk selalu ditanamkan nilai-nilai kebangsaan.
Ia memaparkan, selain pendidikan dan penelitian, ada juga pengabdian masyarakat dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Pengabdian masyarakat itulah yang bisa dikembangkan kampus untuk membentengi mahasiswa dari isu-isu yang berpotensi merongrong Pancasila.
Karena mahasiswa, lanjutnya, di luar kegiatan penelitian dan pendidikan juga beraktifitas dengan masyarakat.
Kampus tidak bisa mengontrol satu per satu masyarakat yang berinterakasi dengan mahasiswanya.
"Caranya dengan forum seperti ini. Melibatkan 4.000 lebih mahasiwa baru UTM dalam penanaman nilai-nilai kebangsaan," pungkas Baidowi.
Rektor UTM Dr Drs Ec H Muh Syarif Msi mengungkapkan, mentoring kebangsaan akan memberikan pemahaman yang kuat kepada mahasiswa baru tentang Empat Pilar sebagai konsensus kebangsaan.
"Kami harapkan dengan mentoring kebangsaan ini, mahasiswa baru UTM mempunyai komitmen dengan konsensus kebangsaan. Sehingga bisa terhindar dari sesuatu yang bisa merubah orientasi kebangsaan," ungkapnya.
Sekedar diketahui, total jumlah mahasiswa baru UTM tahun ini mencapai 4.300 orang. Lebih dari 75 persen mengikuti dialog kebangsaan yang digelar secara daring.
Selain sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, Syarif berharap tercipta kegiatan literasi dan inklusi untuk berpartisipasi dengan kegiatan mentoring kebangsaan ini.
"Karena nanti ada penugasan dari tim mentoring, ada kewajiban yang harus diikuti," pungkasnya.
Selain Baidowi, Dialog Kebangsaan MPR-RI dalam Rangka Pembukaan PETIK juga mengahadirkan pemateri lain, Dosen Fakultas Hukum UTM Muwaffiq Jufri.
Ia mengusung tema 'Merajut Cinta untuk Indonesia' dengan paparan keragaman suku, bahasa, budaya, dan ratusan ribu jenis flora dan fauna. (edo/ahmad faisol)