Breaking News:

Persebaya Surabaya

Azrul Ananda Sebut Gelaran Lanjutan Liga 1 2020 Tahun 2021 Bakal Tak Punya Sisi Bisnis: Rumit

Keputusan untuk melanjutkan Liga 1 2020 pada Februari 2021 mendatang merupakan suatu paksaan.

TRIBUNMADURA.COM/NDARU WIJAYANTO
Presiden tim Persebaya Surabaya, Azrul Ananda saat memberikan bocoran pemain baru di Stadion Gelora Bung Tomo, Sabtu (11/1/2020). 

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Presiden klub Persebaya Surabaya, Azrul Ananda menilai, upaya PSSI dan PT Liga untuk menggelar lanjutan Liga 1 2020 pada tahun depan tidak memiliki sisi bisnis.

Menurut Azrul Ananda, keputusan untuk melanjutkan Liga 1 2020 pada Februari 2021 mendatang merupakan suatu paksaan.

"Kalau dipaksakan jalan, saya merasa ini sudah tidak punya sisi bisnis," kata Azrul Ananda saat diwawancarai Surya secara virtual dalam rangkaian acara Ulang Tahun ke-31 Harian Surya( grup TribunMadura.com ), Selasa (10/11/2020).

"Tidak punya visi industri karena memaksakan sesuatu yang hampir tidak mungkin terjadi," sambung dia.

Azrul Ananda menjelaskan, akibat memaksakan kompetisi tetap digulirkan, klub harus mendapati situasi sulit, terutama kaitannya dengan sisi finansial.

Baca juga: Manajemen Arema FC Buka Opsi Perpanjang Masa Libur Tim hingga Akhir Tahun 2020, Ini Penyebabnya

Baca juga: Pelatih Madura United Rahmad Darmawan Lebih Setuju Tahun 2021 Dimulai dengan Kompetisi Musim Baru

Baca juga: Cara Asyik Pemain Asing Persebaya Aryn Williams Isi Waktu Tunda Liga 1: Liburan ke Bali dan Inggris

"Ini masih menunda yang kemarin, jadi kami belum bisa memikirkan yang 2021, jadi anggaran tahun ini bisa dobel," tutur Azrul.

Tidak hanya anggaran dobel, Azrul menegaskan, penundaan kompetisi musim ini hingga tahun depan, menuntut klub cermat dalam menjaga stabilitas tim.

"Rumit dari sisi kontrak sponsor, kontrak pemain, dan berbagai komitmen yang harus dilakukan klub dengan berbagai pihak," jelas suami dari Ivo Ananda itu.

Kondisi itu akan mengganggu stabilitas finansial tim.

Padahal selama ini ia menyebut mayoritas klub di Indonesia masih tergantung terhadap pemasukan sponsor, tiket pertandingan dan merchandise tim.

Poin itu menjadi berkurang karena kompetisi musim ini akan berjalan tanpa penonton.

"Kalau di luar negeri tanpa penonton tidak masalah, pemasukan utamanya bukan dari penonton dan sponsor di baju, tapi dari revenue sharing yang dijaring oleh liga dari hak siar TV," ucap Azrul.

Sehingga kompetisi dijalankan tanpa penonton tidak mengganggu stabilitas finansial klub, karena mendapat revenue yang cukup.

"Di Indonesia, kalau hanya mengandalkan revenue dari liga, mohon maaf klub hanya mendapat 5 milyar setahun, itu menggaji satu pemain belum tentu cukup," pungkasnya. (amn)

Penulis: Khairul Amin
Editor: Ayu Mufidah Kartika Sari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved