Breaking News:

Virus Corona di Indonesia

Cara Pencegahan Virus Corona atau Covid-19 Ala Mahasiswi Pascasarjana Imunologi Unair Faith Fore

Mahasiswi Pasca Sarjana Universitas Airlangga, Faith Fore, memberikan tips untuk masyarakat mengenai cara pencegahan penyebaran virus corona.

Youtube Surya TV
PERSONA : Faith Fore Mahasiswi Unair Asal Zimbabwe Bicara Soal Asmara dan Karir 

"Akan jadi sakit. Harus sedikit. Karena itu yang kami pakai saat membuat vaksin seperti sekarang. Jika mau membuat vaksin Covid-19 atau virus corona.

Jadi kami ambil lebih sedikit bagian dari virus corona, apapun proteinnya.

Jadi protein dari virus corona yang kami buat secara sintetik dan setelah itu dibangunkan. Itu lah yang akan disuntikkan ke manusia dan hampir mirip virus itu. 

Jika dia di tubuh manusia, dia akan mengekspresikan antibodi yang posisinya bisa bekerja terhadap virus corona. Jadi untuk anak-anak sedikit kotor itu baik ketika mereka masih growing up (red-bertumbuh)," papar Faith Fore.

Dalam kesempatan itu Faith Fore juga membagikan cara-cara agar masyarakat menjaga kesehatan dengan memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi setiap hari.

"Tubuh kita bisa bekerja secara sendiri dan ada banyak makanan-makanan yang perlu dikoonsumsi. Seperti sayuran dan vitamin.

Vitamin dibutuhkan untuk membangunkan sel darah khususnya sel imun. Jadi. saya harus sampaikan, ketika pandemi virus corona alangkah baiknya kita menjaga imun sistem yang bagus serta orang harus makan makanan yang cukup dan kalori harus cukup," katanya.

Faith Fore menyatakan, bahwa setiap orang membutuhkan sayuran, vitamin dan air putih agar tubuh sehat dan tidak merasakan lelah.

"Banyak orang merasa lelah. Ada salah satu yang orang biasanya lupa. Air putih. Air putih sangat penting. Orang harus minum air putih yang cukup supaya vitamin, makanan yang kamu makan itu bisa ditranformasikan ke final product-nya," ungkapnya.

Wartawan juga mempertanyakan apakah virus corona atau Covid-19 dapat bertahan di udara.

Faith Fore mengatakan, bahwa banyak penelitian yang menjelaskan tentan hal itu.

"Soalnya sampai sekarang jika saya tidak salah, banyak orang belum tahu, apakah dia secara droplet infection seperti Tuberculosis atau TBC.

TBC itu bisa droplet infection tetapi apakah dia (TBC) bisa menjadi aerosol?

Tetapi yang penting, yang masyarakat harus tahu tentang virus corona ini, TBC merupakan salah satu pathogen yakni, infeksi paru. TBC adalah infeksi paru. TBC bisa masuk ke dalam tubuh melalui hidung dan mulut," jelasnya.

Faith For masih mengikuti anjuran dari WHO agar setiap orang menggunakan masker agar virus corona tidak masuk ke dalam tubuh.

"Kenapa selalu diminta untuk pakai masker karena banyak penelitian sedang dilakukan tentang itu. Apakah virus itu bisa menjadi aerosol? Apakah virus itu bisa menjadi droplet infection? Tapi ada banyak pesan-pesan yang disampaikan dia bisa di udara selama waktu ini. Saya mengikuti apa yang dikatakan WHO. Setiap orang harus pakai masker supaya semua kemungkinan ini avoided ( red-dihindari).

Di tambah lagi, tidak semua orang yang sembuh dari Covid-19 akan kebal atau imun terhadap infeksi kedua.

"Jadi seperti ini, corona itu virus.

Biasanya ada imun itu seperti  permanen atau head Simunnity disebut heads imunity. Itu bisa jadi karena ada virus biasanya.

Imunitas yang diekpresikan itu tidak permanen. Jadi ada kemungkinan bisa terinfeksi lagi.

Virus itu nggak bisa hidup sendiri. Tapi dia butuh sesuatu untuk hidup. Setelah dia masuk ke dalam tubuh, dia akan membutuhkan salah satu dari manusia.

Dan dia harus mengadaptasi di sana dan saat mengadaptasi di dalam tubuh, dia akan menjadi mutasi dan ketika dia mutasi, antibodi yang mungkin membangunkan waktu itu khusus untuk virus yang belum mutasi," terangnya.

Faith Fore mengimbau kepada pasien Covid-19 yang sudah sembuh agar tetap menjaga protokol kesehatan seperti orang yang belum pernah terinfeksi virus corona.

"Jadi jika dia mutase, kamu ga punya imun sitem kepada virus itu karena dia sudah baru. Tetapi yang penting sekarang SARS-CoV-2 ini belum mutasi sama sekali. Mutasinya Cuma sedikit. Jadi, itu antibodi-nya bisa, jika antibodi-nya bukan feminine hingga head immunity. Orang yang terinfeksi dan sudah terinfeksi menurut saya masih sama. Jadi setiap oorang harus menerapkan protokol kesehatan. Meski kamu sudah terinfeksi, kamu kira saya sudah imun kepada corona? Jelas belum. Kamu harus tetap menjaga kesehatan seperti orang yang belum terinfeksi virus corona," pungkas Faith Fore.

Asmara dan Pilihan Karir Faith Fore

Faith Fore sosok pemuda inspiratif asal Harare, Zimbabwe yang berhasil mengukir segudang prestasi.

Youtuber TV Anak-Kos-Kosan tersebut merupakan mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Faith Fore mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Indonesia dan mengambil jurusan S2 Imunilogi di Universitas Ailangga.

Wanita yang berasal dari Zimbabwe ini memiliki alasan khusus memilih jurusan Imunologi di Universitas Ailangga.

Lulusan mahasiwa S1 di sebuah Universitas di Zimbabwe ini memang ingun belajar tentan imun sitem tubuh manusia.

"Selepas saya kuliah S1 di Zimbabwe, saya ingin belajar lebih dalam tentang Imunologi atau imun sistem yang biasanya sekarang bagaimana badan kita bisa merespon kepada semua vatogen atau virus, bakteri dan semua yang masuk ke dalam tubuh. Jadi, saya sangat pengen belajar tentang Imunulogi, ucap Faith Fore.

Menurut Faith Fore, jurusan Imunologi hanya ada di Universitas Airlangga. Di samping itu, Universitas Airlangga dikenal masyarakat sebagai Universitas terbaik dalam bidang kesehatan.

"Dan waktu saya mencari di Asia salah satu Universitas yang sangat terkenal secara di bagian kesehatan itu Universitas Airlangga dan saat itu juga Imunologi hanya secara S2. S2 imunologi hanya ada di Universitas Airlangga.

Jadi saya pilih Universitas Airlangga. Awalnya saya berpikir apakah saya bisa mendapat beasiswa soalnya saya bisa apply ke pemerintahan Indonesia dan kerjasama. Dan setelah itu saya di accepted," ungkapnya.

Selama tiga tahun Faith Fore tinggal di Kota Surabaya, Indonesia.

Banyak hal yang dipelajari Faith Fore, termasuk soal bahasa dan budaya.

Diceritakan Faith Fore, bahwa saat petama kali menginjakkan kaki di Kota Pahlawan, ia merasakan kesulitan berbahasa Indonesia.

"Saya mau jujur pertama kali susah karena saya tidak bisa satu kata dalam berbahasa Indonesia. Ditambah lagi, dosen-dosennya banyak. Tetapi dari bidang kesehatan banyak belajar dari luar negeri.

Jadi semua bisa Bahasa Inggris.

Tapi mahasiswa sendiri jika dosennya pakai Bahasa Inggris saya merasa sedih karena teman-teman kuliah saya mahasiswa itu Bahasa Inggrisnya nggak bisa juga. 

Jadi susah padahal saya Cuma satu orang jadi saya pertama kali susah dan komunikasinya tidak ada," aku Faith Fore.

Faith Fore tidak tinggal diam saat menghadapi kendala berbahasa.

Ia pun mulai belajar lebih dalam tentan Bahasa Indonesia dan memiliki tujuan agar bisa berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar.

"Susah sekali sama mahasiswa lain sampai saya belajar lebih dalam tentang Bahasa Indonesia supaya saya bisa berkomunikasi dengan mahasiswa, dosen dan semua yang ingin saya sammpaikan bisa disampaikan dengan baik," ungkap Faith Fore.

Wanita yang bercita-cita menjadi dosen tersebut sempat mengalami culture shock.

"Pasti saya mengalami  culture shock. Seperti pertama kali saya berada di Surabaya. 

Saya tidak paham soal Bahasa Indonesia mengingat saya tidak pandai mengucapkan bahasanya," jelasnya.

Faith Fore menilai, masyarakat Indonesia rendah harti dan mudah sekali mengucapkan kata maaf.

"Setiap waktu saya ngomong sesuatu yang salah saya, tetapi justru orang Indonesia yang meminta maaf kepada aku. Mohon maaf kak, im sorry. Saya tidak mengerti kenapa mereka selalu meminta maaf.

Padahal yang salah saya. Jadi salah satunya seperti itu. Terlalu humble (red -rendah hati). Mereka humble sekali," 

Selama tinggal di Surabaya, Faith Fore belajar Bahasa Indonesia dari teman-temannya.

Teman-teman yang mengelilingi selalu mendukung Faith Fore untuk mampu berbahasa Indonesia.

Banyak dari mereka menganal Faith Fore adalah sosok yang cerewet.

Kecerewetan itu lah yang membuat Faith Fore belajar banyak kosakata Bahasa Indonesia.

"Banyak orang mengira saya cerewet. Tetapi itu membantu saya. Saya merasa bukan manusia jika saya tidak ngomong.

Padahal waktu pertama kali saya di Surabaya dan Universitas Airlangga. Saya tidak mengerti bahasanya. Satu kata dalam Bahasa Indonesia yang saya pelajari saya langsung bilang ke teman dan temanku itu selalu mendorong aku.

Karena mereka nggak teratawa setiap saya coba berbicara dalam Bahasa Indonesia. Dan selalu mereka ada untuk mengajari aku Bahasa Indonesia. Jadi maka itu saya bisa berteman banyak dengan orang Indonesia. Dan pada waktu itu, mereka mengajarkan aku tentang Bahasa Indonesia sampai saya bisa berbicara berbahasa Indonesia," terangnya.

Saat ditanya tentang perbedaan budaya di Surabaya dan Harare, Faith Fore menjelaskan tentang banyak hal.

Mulai dari agama, populasi, cara berpakaian dan budaya.

"The main differences culture that when it comes to religion.

90 percent of the people in Zimbabwe they are Christian and then because of the religion its also has  a part on the culture.

So the culture of Zimbabwe is totally different from Indonesia.

And also when you go to Harare almost there are most the people in Harare would be worrying will you actually notice that when you try those clothes in Indonesia

They will be considered or regarded as in appropriate. ‘Kurang sopan ya’

But you are in Zimbabwe. There is not any problem when you try to do that.

And also the population of Harare in particular is just 2 million and Surabaya is 7 million.

Which is tampling, it a big and huge difference.

But when you check like Conjugate the to cities are.

Harare is not conjugate are like Surabaya as conjugate.

The food, street food and but im positionetly in Zimbabwe, the government of Zimbabwe does not allowed selling of street food.

And also all of the things that you find also difference with when you go  to Zimbabwe.

And its like motor bikes.

When you are in Zimbabwe, motorbikes allowed in that cities enter.

So you have to use a public transport or you have to use your own car when you entering bussines center.

(Perbedaan utama budaya itu bila menyangkut agama.

90 persen dari orang-orang di Zimbabwe mereka beragama Kristen dan karena agama mereka juga memiliki bagian dalam budaya.

Jadi budaya Zimbabwe sangat berbeda dengan Indonesia.

Dan juga ketika Anda pergi ke Harare hampir sebagian besar orang di Harare akan khawatir apakah Anda benar-benar memperhatikan ketika Anda mencoba pakaian tersebut di Indonesia?

Mereka akan dianggap atau dianggap sesuai. ‘Kurang sopan ya’

Tapi Anda berada di Zimbabwe. Tidak ada masalah saat Anda mencoba melakukan itu.

Dan juga populasi Harare khususnya hanya 2 juta.

Sementara, Surabaya 7 juta.

Itu perbedaan besar dan sangat besar.

Tetapi ketika Anda memeriksa seperti Konjugasi ke kota-kota adalah.

Harare tidak terkonjugasi seperti Surabaya sebagai konjugasi.

Makanan, jajanan pinggir jalan, dan yang penting di Zimbabwe, pemerintah Zimbabwe tidak mengizinkan penjualan makanan jalanan.

Dan semua hal yang Anda temukan juga berbeda dengan ketika Anda pergi ke Zimbabwe.

Seperti sepeda motor.

Ketika Anda berada di Zimbabwe, sepeda motor diperbolehkan masuk di kota-kota itu.

Jadi harus menggunakan angkutan umum atau harus menggunakan mobil sendiri saat memasuki bussines center.)," papar Faith Fore.

Faith Fore mengutarakan, dirinya beradaptasi selama tinggal di Kota Surabaya.

Kehidupannya di Kota Surabaya seperti sebuah perumpaan 'When You are in Rome, Do as the Romans do' (Ketika kamu ada di Rome, kamu harus melakukan segala hal seperti orang Rome.).

Boleh dikatakan, Faith Fore memaparkan, ketika berada di Surabaya, ia harus bersikap dan berperilaku seperti perilaku orang Surabaya.

Hal itu dilakukan Faith Fore agar ia bisa menyatu dengan warga Surabaya dan membangun hubungan pertemanan dengan rekan-rekannya yang tinggal di Kota Surabaya.

"Nyaman sekali. Mungkin ada frasa dalam bahasa Inggris itu When You are in Rome, Do as the Romans do? Jadi saya ada di Surabaya dan saya harus berperilaku seperti orang Surabaya. Dengan demikian relationship saya dengan orang Surabaya akan bagus," tambahnya.

Wanita penyuka makanan nasi goreng Jawa dan Soto Lamongan ini memang masih belum memiliki pasangan kekasih.

Banginya seseorang yang membuatnya jatuh cinta adalah pria yang mampu membuat hatinya bergetar dan berbunyi 'tik...tik...tik'.

"Saya sibuk. Tapi teman-teman banyak. Orang Indonesia yang saya punya. Mereka malu dan kita sering keluar.

Tapi ternyata kan belum ada yang bisa membuat hati saya tersentuh seperti tik tik tik Belum ada chemistry dengan siapapun jika ada saya langsung gaet.

Menurut saya pasangan itu tidak harus dari Surabaya tetapi orang itu harus membuat saya bisa mengatakan ‘saya tidak bisa hidup tanpa orang ini. Tidak masalah jika orang tersebut dari Surabaya, Jakarta, Lombok, Lamongan, Bali.

Gapapa yang penting bisa membuat hati saya 'tik...tik...tik', punngkasnya sembari tertawa.

Penulis: Elma Gloria Stevani
Editor: Elma Gloria Stevani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved