Virus Corona di Batu

Kembali Zona Merah Covid-19, Wali Kota Batu Sebut karena Klaster Keluarga, Bukan dari Pariwisata

Kota Batu, Jawa Timur kembali berstatus zona merah. Dewanti mengatakan, kenaikan itu disebabkan oleh klaster keluarga, bukan dari aktivitas wisata.

Penulis: Benni Indo | Editor: Elma Gloria Stevani
TRIBUNMADURA.COM/BENNI INDO
Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko memberikan penjelasan kepada para jurnalis setelah menggelar Rakor dengan Forkopimda menyikapi zona merah Kota Batu di Balaikota Among Tani, Rabu (2/12/2020). 

TRIBUNMADURA.COM, BATU - Kota Batu, Jawa Timur kembali berstatus zona merah.

Berdasarkan data Satgas Covid-19 Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Kota Batu kembali berstatus zona merah penyebaran Covid-19 per Selasa (1/12/2020).

Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko mengatakan, status zona merah itu akibat kenaikan jumlah sebaran virus SARS-CoV-2.

Dewanti mengatakan, kenaikan itu disebabkan oleh klaster keluarga, bukan dari aktivitas wisata.

Pemkot Batu mengimbau agar masyarakat disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Pemkot Batu juga telah menggelar rapat koordinasi menyikapi zona merah, Rabu (2/12/2020).

Baca juga: Daftar BLT dan Bansos yang Diperpanjang di 2021, Ada BLT BPJS, BLT UMKM, BST PKH dan Kartu Prakerja

Baca juga: Detik-detik Mencekam Rumah Ibunda Mahfud MD Digeruduk, Sang Adik: Sesama Madura, Keluarlah Mahfud!

Baca juga: Kantor Pelayanan Pajak Daerah Ponorogo Lockdown 10 Hari, Pemkab Pastikan Layanan Tak Terganggu

Baca juga: Satu Mobil Elf Terbakar dalam Kecelakaan di Tol Madiun-Nganjuk, Tiga Warga Pamekasan Meninggal Dunia

Rapat itu dihadiri Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko, Kapolres Batu AKBP Catur C Wibowo, Dandim 0818 Malang-Batu Letkol Inf Yusub Dody Sandra, Kajari Batu Supriyanto beserta Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Batu.

Dewanti mengatakan, klaster keluarga menjadi penyebab Kota Batu menjadi zona merah.

Kenaikan yang cukup signifikan belakangan ini berasal dari klaster keluarga.

“Kenaikan bukan dari sektor pariwisata, tapi dari klaster keluarga. Baik di Tlekung, maupun di Songgokerto. Ini karena ada yang sakit, tidak dirawat di rumah sakit. Lalu banyak yang menjenguk, baik tetangga maupun kerabat,” kata Dewanti, Rabu (2/12/2020).

Para kerabat dan tetangga yang menjenguk tersebut tidak mengetahui apakah orang yang sakit tersebut terkonfirmasi positif Covid-19 atau tidak.

Akibat dari ketidaktahuan itu, maka terjadi penularan secara masif.

“Akhirnya ketika parah masuk RS, lalu meninggal. Ketika hasil swab keluar, ternyata konfirmasi positif Covid-19,” ujarnya.

Menyedihkannya lagi, seperti kasus di Tlekung, setelah ada satu orang meninggal lalu berturut-turut ada yang meninggal lainnya.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved