Breaking News:

Berita Sumenep

Sumenep Dilanda Banjir Tiap Tahun, Dinas PRKPCK Ungkap Sebabnya, Mulai Drainase hingga Lahan Datar

Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumenep telah merendam rumah warga dan lahan tani.

TRIBUNMADURA.COM/ALI HAFIDZ SYAHBANA
Banjir di wilayah Sumenep, Rabu (6/1/2021) 

"Belum sampai ke taraf bajir karena dalam satu dan dua jam sudah habis," katanya.

Namun untuk daerah seperti di Desa Patean, ia mengakui, banjir terjadi karena sehari semalam air masih tersisa.

Padi petani terendam banjir di wilayah Kecamatan Batuan Sumenep, Rabu (6/1/2021)
Padi petani terendam banjir di wilayah Kecamatan Batuan Sumenep, Rabu (6/1/2021) (TRIBUNMADURA.COM/ALI HAFIDZ SYAHBANA)

Baca juga: Dirut PDAM Trunojoyo Sampang Diduduki Nama Baru, Fokus Tingkatkan Pelayanan dan Kualitas SDM

Baca juga: Vaksinasi Covid-19 Tahap Pertama di Surabaya, 12 Orang dari Jajaran Forkopimda Divaksin Bulan ini

"Kalau di Patean ya masuk banjir karena sudah terendam, tapi kalau di Kota Sumenep sudah hilang dalam waktu satu dan dua jam," tambahnya.

Ditanya bagaimana untuk m3ngantisipasi dan mengevaluasi, ia mengaku dengan adanya anggaran yang tersedia di Dinas PRKP dan Cipta Karya hampir tidak ada untuk tahun 2020 - 2021.

"Oleh sebab itu kita memaksimalkan pembersihan saluran melalui Satgas-satgas merah, tiap hari rutin secara bergiliran di wilayah kota sebelum turunnya hujan," jelas dia.

"Membersihkan lumpur, sampah yang ada di saluran-saluran. Karena untuk merenovasi dan membuat saluran anggarannya belum tersedia," kata Mohammad Jakfar.

Salah satu contohnya, seperti di Jalan Trunojoyo merupakan proyek (saluran/drainase) 30 tahun yang lalu yang bawahnya masih dinilai riul.

"Seharusnya sekarang sudah diganti, karena dimensi saluran itu semakin tahun harus semakin besar. Tapi karena belum tersedianya anggaran, maka belum," katanya.

Wilayah kota Sumenep ini katanya, perlu saluran pembungan air yang lebar. Kalau dimensinya besar, air bisa mengalir dengan baik.

"Sampah juga menjadi salah satu faktor terjadinya genangan air dan banjir. Jadi itu beberapa penyebab tingginya debit air yang menggenang saat hujan," katanya.

"Makanya perlu pengatasan seperti mencegah sampah menyumbat saluran air, pelebaran drainase atau pembuangan air," ungkapnya.

"Termasuk perlu adanya biopori di setiap rumah di Kota Sumenep agar resapan air bisa kembali optimal," jelasnya.

Penulis: Ali Hafidz Syahbana
Editor: Ayu Mufidah Kartika Sari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved