Breaking News:

Vaksin Covid

Wajar Jika Takut Disuntik Vaksin Covid-19, Psikolog Beri Langkah Agar Suntik Vaksin Berjalan Lancar

Psikolog menyebutkan jika respon takut merupakan hal yang biasa dialami oleh seseorang. Jika takut divaksin, Psikolog memberikan empat langkah

Editor: Aqwamit Torik
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Tenaga kesehatan saat menjalani suntik vaksin Covid-19 - Psikolog sebut wajar takut disuntik vaksin, ikuti empat langkah ini agar tidak takut saat suntik vaksin Covid-19 

Semua cara sudah dilakukan untuk mengatasi ketakutan akan vaksinasi lalu buat keputusan.

Keputusan ini jadi krusial karena do or stop divaksinasi.

Tenaga kesehatan menjalani vaksinasi Covid-19 di Rumah Sakit Umum (RSU) Bungsu, Jalan Veteran, Kota Bandung, Senin (18/1/2021). Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di pos layanan ini dari 14, 15, dan 18 Januari 2021 berjalan lancar, sudah diikuti lebih dari 70 tenaga kesehatan di lingkungan RSU Bungsu dan beberapa tenaga kesehatan dari sejumlah rumah sakit di Kota Bandung.
Tenaga kesehatan menjalani vaksinasi Covid-19 di Rumah Sakit Umum (RSU) Bungsu, Jalan Veteran, Kota Bandung, Senin (18/1/2021). Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di pos layanan ini dari 14, 15, dan 18 Januari 2021 berjalan lancar, sudah diikuti lebih dari 70 tenaga kesehatan di lingkungan RSU Bungsu dan beberapa tenaga kesehatan dari sejumlah rumah sakit di Kota Bandung. ((TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN) (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN))

“Pastikan keputusan yang diambil bukan ikut-ikutan, karena kalau empat langkah itu sudah dilaukan, akan muncul insight. Bahwa program vaksinasi, selain mendukung Pemerintah juga dapat menurunkan angka Covid-19 dan buat perlindungan  diri sendiri,” kata Nidya.

Vaksin harus dua dosis

Dokter Spesialis  Penyakit Dalam Eka Hospital Cibubur Dr. Annisa Maloveny, Sp.PD mengatakan, vaksin Covid-19 yang diberikan ada 2 dosis. Jarak vaksinasi pertama dan kedua  2 minggu.

“Jangan dilakukan 1x  sudah merasa kebal, harus lengkap rangkaian dua dosis dengan interval dua minggu. Responnya setelah dua minggu setelah vaksinasi kedua. Baru bisa dilihat efektif atau engga,” ujar dr Annisa di kesempatan yang sama.

Ia mengatakan, efikasi vaksin dari Sinovac sudah diteliti BPOM mencapai 65  persen.

Walaupun dianggap lebih kecil  dibandingkan misalnya Pfizer yang diklaim mencapai 90 persen, namun untuk saat ini vaksin Sinovac sudah ‘di depan mata’.

“Daripada pertahanannya 0 persen, lebih baik 65 persen. Karena bila sudah terkena, gejala Covid yang timbul akan jauh lebih ringan,” tegas dr Annisa di kesempatan yang sama.

Sejauh ini, vaksinasi merupakan program yang sudah dilakukan sejak lama dan terbukti bisa menurunkan angka kematian serta kecacatan akibat penyakit tersebut. 

Contohnya polio,  cacar air, campak yang menurun karena vaksinasi sudah dilakukan. Pembuatan vaksin dilakukan pada penyakit yang mudah menular, menimbulkan kecacatan serta kematian yang tinggi.

“Setelah ditemukan vaksin, angka meninggal  karena cacar, campak, kecacatan akibat polio menurun drastis. Karena tiap orang sudah muncul  antibodi sehingga kalaupun muncul tidak berat. Cacar dan campak tidak ditakuti lagi karena gejala menjadi ringan.  Begitu juga pada vaksin Covid. Walaupun efikasi yang tidak 100 persen, tapi menimbulkan memori kekebalan antibodi,” katanya.

Pada Covid-19, 80 persen memang menimbulkan gejala ringan.

Namun bila 20 persen itu meningkat terus tentu kasusnya juga akan banyak, membuat RS kewalahan.

“Angka kematian akibat Covid-19, diangka 1-3 persen. Namun dimasa pandemi dengan penyebaran yang cepat makan angka kematian tersebut  menjadi bermakna,” katanya.

Dokter Annisa menjelaskan, jenis vaksin berbeda-beda.  Pada  tahap pertama, Januari-April dimana yang dilakukan vaksinasi dengan vaksin Sinovac. Saat dilakukan uji kllinis,  vaksin Sinovac dilakukan pada usia 18-59 tahun tanpa komobid (penyakit penyerta). Diluar kelompok usia 18-59 tahun dan komorbid bisa dilakukan jenis vaksin lain. Vaksin Sinovac ini penyimpaannya lebih mudah di suhu 2-8 derajat, bandingkan jenis lain yang butuh penyimpanan -50 derajat.

“Untuk pemberian vaksin dari  Januari-April  menggunakan Sinovac produksi cina, penelitan 18-59 tahun tanpa komorbi. Jadi kalau usia diatas 59 tahun, punya komorbid,tunggu sampai ada vaksin ada kriteria tersebut. Sampai sekarang pun vaksin  Covid-19 masih diteliti karena baru dilakukan uji Januari 2020, dan awal tahun 2021 sudah digunakan. Namun dilihat dari fase 1, 2,3 tidak ada efek samping, kalaupun ada ringan jadi aman digunakan,” katanya.

Persiapan bila akan divaksin

Sama seperti  vaksin jenis apapun, secara umum  vaksin untuk mengaktifkan sistem imun sehingga ada sel memori.

Kondisi  imun harus optimal. Caranya  dengan istiahat cukup, jangan ada demam, sakit, pilek. Walaupun tidak ada kontra indikasi absolut,  tapi sebaiknya vaksinasi dilakukan  dalam kondisi tidak sakit.

Sejauh ini, efek samping yang muncul ringan. Ada nyeri di bekas suntikan, demam 1-2 hari, ada rasa nyeri/ngilu di punggung.

Efek samping itu diberi obat anti demam dan anti nyeri walaupun tidak diberi obatpun bisa hilang sendiri dan tidak ada efek selanjutnya. Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI), secara umum, kejadiannya sangat jarang.

Sehabis disuntik, dokter akan melakukan  observasi sekitar  30 menit untuk melihat ada efek samping atau tidak.

Bila terjadi alergi kejadiannya bisa 1: 100.000/1.000.000. Alergi biasanya terjadi bukan dari vaksinnya tapi dizat penyerta dari vaksin tersebut, berupa zat pengawetnya.

Habis vaksin malah positif Covid-19

Bupati Sleman Sri Purnomo mendadak viral ketika ia diketahui  terkonfirmasi positif Covid-19. Padahal ia mendapatkan suntikan tahap pertama.

Menurut dokter Annisa,  sejak awal harus ada pengertian  bahwa vakin bukan berarti menjadi tidak terkena Covid-19. Namun, bilapun terkena tidak bergejala atau gejala ringan.

Tidak ada gejala berat. Walapun secara umum, hampir 80 persen positif Covid-19 merupakan gejala ringan dan tidak bergejala. Namun angka 20 persen  juga tidak bisa dipandang sedikit.

“Vaksin bukan berarti sama sekali akan kena Covid. Tapi mengurangi terinfeksi dan  gejala karena sistem imun sudah ada. Kalau pun terkena, dia efektif melindungi maksimal 90 persen tidak berat atau meninggal. Bisa kena tapi ngga berat,” katanya.

Kemungkinan lain, bupati terkena saat masa inkubasi. Vaksin tersebut belum meningkat kadarnya sehingga  terkena infeksi.  

Dokter Annisa juga mengingatkan, protokol kesehatan harus tetap dilakukan baik yang sudah divaksinasi dan yang belum. Mengonsumsi gizi seimbang, olahraga 4x seminggu, berpikir positif, tidur cukup, bila malam kurang bisa diganti pada siang hari, minum air putih yang cukup.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Takut Disuntik Vaksin Covid-19? Ketahui Langkah yang Perlu Dilakukan Ketika Perasaan Itu Muncul

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved