Berita Surabaya

Harga Cabai Rawit Meroket, Pedagang Pasar Beralih Jualan Cabai Kering Karena Harganya Lebih Murah

Pedagang cabai memilih memasarkan cabai kering karena selisih harga yang mencapai 50 persen.

Penulis: Bobby Koloway | Editor: Ayu Mufidah Kartika Sari
TRIBUNMADURA.COM/FIKRI FIRMANSYAH
Tami (62) pedagang bumbu dapur yang berjualan di Pasar Wonokromo Surabaya, Kamis (25/2/21). 

Menurut Trio, tingginya harga cabai disebabkan dua hal. Pertama, karena tingginya curah hujan di awal tahun ini dan adanya penyakit.

Baca juga: Pilkades Serentak 2021 di Sampang Dikabarkan Ditunda hingga 2025, Begini Kata Sekda Yuliadi Setiawan

"Tingginya harga cabai ini karelna gagal panen akibat cuaca. Juga, penyakit cacar air," katanya.

Di luar itu, Trio mengungkapkan, pihaknya belum menemukan permainan harga di tingkat tengkulak. "

Dari harga petani sepertinya sudah tinggi akibat memang langka," katanya.

Selama ini, Surabaya mendapatkan suplai dari sejumlah daerah di Jawa Timur. Di antaranya, Probolinggo, Madura, Jember, Bondowoso, dan Lumajang.

Pihaknya menarget, harga cabai kembali normal sebelum Ramadhan mendatang.

Untuk itu, pihaknya terus mengintensifkan sidak pasar.

"Kami berharap menjelang Romadhon (akhir April) bisa kembali normal. Tentu, ini seiring dengan semakin baiknya cuaca," katanya.

Pihaknya juga menghimbau para pedagang untuk tidak mengambil laba terlalu besar.

"Kalau misalnya, harga kulakan Rp110 ribu, jualnya mungkin Rp116 ribu. Jangan sampai Rp120 ribu," katanya.

"Menekan harga ini tak bisa sendiri. Semua harus kerjasama, terutama dengan pedagang," katanya. (bob)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved