Breaking News:

Wabah Virus Corona

Soal Kontroversi Halal Haram Vaksin AstraZeneca, Ini Kata Pakar

MUI memiliki auditor yang menilai halal dan haramnya barang. Terkait vaksin, menurutnya, semua majelis fatwa di dunia menghukumi vaksin hal yang suci.

ISTIMEWA
Diskusi publik di Auditorium Rektorat Unesa, Lidah Wetan Minggu (4/4/2021). Dalam diskusi kali ini dihadiri oleh Majelis Ulama Indonesia Pusat yakni Wakil Sekretaris Jenderal MUI Pusat, Dr KH Fahrurrozi Burhan, Ketua Badan Kesehatan MUI Jatim, Prof Dr Djoko Santoso, Dosen Sekolah Farmasi ITB, Aluicia Anita Artaria, Ketua IDI Jawa Timur, Dr dr Sutrisno Sp OG dan Ketua Himpunan Psikologi Indonesia Jatim, Ilham Nur Alfian M Psi Psikolog. 

Dalam sambutannya, Rektor Unesa, Prof Dr Nurhasan M Kes menjelaskan Unesa memiliki tanggung jawab moral untuk mendukung kesehatan masyarakat dan membantu meluruskan polemik terkait halal atau haramnya vaksin AstraZeneca.

Baca juga: Bacaan Doa 10 Hari Pertama Ramadan 2021, Ini Keistimewaan Luar Biasa serta Amalan yang Dianjurkan

Baca juga: 8 Amalan yang Dianjurkan Menyambut Bulan Ramadan 1442 H, Dilengkapi Doa Bahasa Arab dan Indonesia

Baca juga: Pasien Covid-19 Dirawat di RS dan Safe House Kabupaten Malang Tinggal 17 Orang, Satu Isolasi Mandiri

Baca juga: Gubernur Khofifah Jamin Stok dan Harga Sembako Aman di Kabupaten Lamongan Jelang Ramadan 2021

“Polemik seperti ini akan memunculkan ketakutan dan kecemasan di masyarakat. Karena itu, informasi atau isu miring harus diluruskan. Adanya ulama, akademisi kesehatan dan psikologi merupakan sinergi yang tepat untuk mengedukasi dan memberikan informasi yang tepat untuk masyarakat terkait vaksin AstraZeneca,” ujarnya.

Kemudian menurut Guru Besar Fakultas Kesehatan Unair, Prof dr Djoko Santoso Ph D KGH FINASIM, ada banyak hal yang harus dipenuhi dalam vaksin, satu diantaranya ialah tripsin. 

Tripsin digunakan untuk memotong rantai protein dalam proses kultur jaringan.

Tak hanya itu, tripsin dinilai memiliki efektivitas dan stabilitas dalam proses replikasi. Karena itu digunakan sebagai salah satu unsur penting dalam vaksin

“Dari ini kami ingin mencerahkan masyarakat, karena banyak beban yang dipikul masyarakat. Sehingga harusnya masyarakat tidak dibingungkan juga harusnya antara halal atau haram. Karena itu semua sudah jelas, bahwa vaksin AstraZeneca bukan hal yang perlu pertentangkan dan itu diperbolehkan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa vaksin AstraZeneca memiliki efek samping bagi sebagian pasien seperti demam, pusing dan nyeri pada sekitar daerah penyuntikan.

“Ibaratnya virus ini berada dalam rumahnya (herd), ini tidak tersentuh tripsin karena Astrazeneca sudah punya prototype virus Covid-19. Sehingga, ketika vaksin ini dimasukkan dalam otot manusia, maka menimbulkan respon seolah-olah terkena virus Covid-19," ujarnya.

Sementara itu, Khatib Syuriah PWNU Jatim, K.H. Syafrudin mengungkapkan banyak pasien Covid-19 yang meninggal dunia, maka diperlukan ikhtiar dan tawakal untuk menjaga kehidupan dan menjaga nyawa umat manusia, salah satunya yakni lewat vaksinasi.

“Intinya, berobat adalah keharusan sebagai ikhtiar dalam kondisi darurat, menggunakan vaksin AstraZeneca pun diperbolehkan,” ucapnya.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved