Breaking News:

Berita Tuban

Demi Hindari Gesekan, Kopdar Perguruan Silat di Tuban yang Dihadiri Ratusan Orang Dibubarkan

Dibubarkannya kegiatan yang tidak berizin tersebut untuk mengantisipasi terjadinya gesekan dengan komunitas lain.

istimewa
Kepolisian Polres Tuban bubarkan kopdar Perguruan silat di cafe KPH Jatirogo, Minggu (16/5/2021) 

Reporter: Mochamad Sudarsono | Editor: Aqwamit Torik

TRIBUNMADURA.COM, TUBAN - Acara kopi darat (kopdar) yang dilakukan oleh kelompok silat dibubarkan polisi, bertempat di cafe area KPH Jatirogo, Minggu (16/5/2021), sore.

Dibubarkannya kegiatan yang tidak berizin tersebut untuk mengantisipasi terjadinya gesekan dengan komunitas lain.

Pasalnya, kopdar dihadiri ratusan massa dari beberapa kecamatan.

"Kita bubarkan kegiatan kopdar yang dilakukan komunitas Shorenk dan Terjal kaitannya dengan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT)," ini untuk mengantisipasi terjadinya gesekan," kata Kapolres Tuban, AKBP Ruruh Wicaksono kepada wartawan.

Ruruh menjelaskan, polisi juga mengamankan 4 orang dari kepanitiaan kopdar dibawa ke Polres, yaitu DK (24) dan A (22) warga kecamatan Jatirogo, WSP (27) warga kecamatan Singgahan serta WER (23) warga kecamatan Senori, untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Pembubaran ratusan massa dan pemulangan juga dilakukan secara bertahap sesuai ranting asal.

Polres Tuban juga melarang segala bentuk kopi darat karena sudah beberapa kali menimbulkan keresahan dan kericuhan, terlebih sekarang dalam masa pandemi covid-19.

"Sudah kita bubarkan secara tertib, agar tidak terjadi gesekan saat di jalan. Di masa pandemi kita harus terapkan protokol kesehatan, pakai masker, cuci tangan dan jaga jarak," pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Ranting PSHT Jatirogo, Sutiyono saat menyatakan, tidak tahu menahu adanya kegiatan kopdar tersebut.

Ia baru mengetahui setelah mendapat kabar dari polsek Jatirogo melalui telepon.

Menurutnya, kelompok admin-admin (Shorenk dan Terjal) bukan Komunitas yang dibentuk oleh PSHT, karena tidak ada struktur organisasi.

Bahkan, organisasi resmi saja belum berani mengadakan silaturahmi besar atau kopdar karena mentaati aturan pemerintah.

"Kopdar seperti ini arahnya pasti terjadi gesekan terutama di jalan, saya inginnya dari masing-masing ranting agar ikut menjaga dan membina anak-anak muda yang ada di Komunitas itu agar lebih taat aturan," imbuh Pria yang juga berprofesi sebagai guru tersebut.(nok) 

Penulis: Mohammad Sudarsono
Editor: Aqwamit Torik
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved