Breaking News:

Berita Pamekasan

Keponakan Mahfud MD Bongkar Grup WA Berisi Tokoh Penyebar Hoaks, Sempat Masuk Tapi Malah Dikeluarkan

Firman Syah Ali, Keponakan Mahfud MD mengaku dikeluarkan dari sejumlah grup WhatsApp (WA) tokoh masyarakat yang suka sebar hoaks.

Penulis: Kuswanto Ferdian | Editor: Elma Gloria Stevani
TRIBUNMADURA.COM/KUSWANTO FERDIAN
Firman Syah Ali (kiri) saat bersama dengan Menkopolhukam RI, Keponakan Mahfud MD (kanan). 

Reporter: Kuswanto Ferdian| Editor: Elma Gloria Stevani

TRIBUNMADURA.COM, PAMEKASAN - Firman Syah Ali, Keponakan Mahfud MD mengaku dikeluarkan dari sejumlah grup WhatsApp (WA) tokoh masyarakat yang suka sebar hoaks.

Ia mengaku ironis dengan keberadaan grup WA itu, sebab para anggota grup langsung marah bila diberitahu dan diluruskan tentang sesuatu yang tidak benar.

Pengamatan pria yang akrab disapa Cak Firman ini, anggota di grup WA itu, bila ada berita hoaks yang mereka share, dianggap sebagai kebenaran dan siapa yang meluruskan berita tersebut langsung dituding PKI, Syiah, antek Cina, budak Israel, Dajjal dan sederetan gelar seram lainnya.

"Saya sering diundang ke grup-grup WA yang berisi para tokoh masyarakat, namun Astaghfirullah, kerjaannya 24 jam hanya share hoaks,dan mereka marah ketika info yang mereka share itu saya luruskan dengan berita klarifikasi, mereka anggap saya yang hoaks dan mereka yang benar," keluh Cak Firman kepada TribunMadura.com, Kamis (27/5/2021).

"Orang yang meluruskan disinformasi tersebut malah dicaci-maki dan divonis PKI, Syiah, Dajjal dan seabreg tuduhan serem lainnya," tambahnya.

Menurut Bendahara Umum PW IKA PMII Jatim ini, tokoh yang suka sebar hoaks di grup WA tersebut bukanlah orang sembarangan.

Setahu Cak Firman, mereka merupakan orang yang saleh secara ritual, rajin salat jamaah, rajin naik haji, rajin berdakwah dan sebagainya.

Namun, ia mengaku miris sekali, sebab kesalehan ritual tersebut tidak berbanding lurus dengan kesalehan sosial termasuk di dalamnya kesalehan digital.

"Netizen yang suka sebar hoaks tersebut bukan orang sembarangan. Di alam nyata mereka merupakan tokoh berpengaruh dan dihormati," bebernya."Secara ritual mereka sangat saleh, rajin salat jamaah, rajin naik haji dan sebagainya, namun sayang kesalehan ritual tersebut tidak berbanding lurus dengan kesalehan sosial yang tentu saja termasuk kesalehan digital didalamnya," lanjut Pengurus Harian LP Ma'arif NU Jawa Timur ini.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved