Breaking News:

Berita Bangkalan

Anggota DPRD Jatim Merespon Video Viral Soal Rumah Karantina Covid-19: Tolong Penuhi Fasilitasnya

Bekas kantor BPWS di Kedung Cowek, Surabaya memang menjadi salah satu rumah karantina bagi para pelintas Jembatan Suramadu yang dinyatakan reaktif

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Aqwamit Torik
istimewa
Cuplikan video pria yang berorasi tuntut mengenai kelayakan karantina di Gedung BPWS 

Reporter: Ahmad Faisol | Editor: Aqwamit Torik

TRIBUNMADURA.COM, BANGKALAN – Viral video seorang pria berorasi mengatasnamakan warga rumah karantina di bekas kantor Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS), singgah juga di smartphone Anggota Komisi C DPRD Provinsi Jawa Timur, Mahfud.

Bekas kantor BPWS di Kedung Cowek, Surabaya memang menjadi salah satu rumah karantina bagi para pelintas Jembatan Suramadu yang dinyatakan reaktif hasil pemeriksaan rapid antigen.

Rumah karantina sengaja disipakan pemerintah bagi pelintas Jembatan Suramadu tujuan Surabaya-Madura yang berstatus reaktif rapid test antigen dalam gelar penyekatan. Di bekas kantor BPWS itu, terdapat sedikitnya 100 warga, beberapa di antaranya berusia lanjut. Rumah karantina juga disediakan di Tanean Suramadu, rest area Suramadu sisi Bangkalan.

“Tolong penuhi fasilitasnya, mereka bukan tahanan. Mereka butuh nyaman secara psikologis agar lekas sembuh. Jangan malah bertambah parah,” tegas Mahfud kepada Surya melalui sambungan seluler, Minggu (20/6/2021).

Ia mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Timur atau pihak terkait yang betanggung jawab atas fasilitas di rumah karantina segera memberikan jaminan kelayakan fasilitas seperti yang menjadi tuntutan warga penghuni rumah karantina di bekas kantor BPWS.

“Kita tidak bisa menyuruh masyarakat hidup bersih tapi tidak didukung dengan fasilitas. Air tidak ada. Pakaian ganti tidak punya karena mereka tidak mempersiapkan diri saat penyekatan,” desak politis PDI Perjuangan itu.  

Dalam video berdurasi 07.58 menit itu disebutkan, total warga penghuni rumah karantina di bekas kantor BPWS itu berjumlah sekitar 100 orang, beberapa di antaranya berusia lanjut. Untuk keperluan mandi, mereka memanfaatkan 4 toilet yang dikhususkan untuk buang air besar.

Ada 10 tuntutan warga penghuni rumah karantina. Pertama, air yang tidak pernah mengalir di toilet atas arah utara. Kedua, termpat suci untuk melaksanakan salat berjamaah tidak tersedia. Ketiga, mereka meminta kendaraan bermotor ditinggalkan, dikembalikan ke rumah karantina. Apabila ada kerusakan dan kehilangan harus ada yang bertanggung jawab. Keempat, AC (pendinging) di lantai II sebalah utara tidak menyala.

Kelima, bagaimana sebenarnya prosedur atau SOP (Standart Operasional Procedure), hak-hak bagi warga yang dikarantina berstarus OTG (Orang Tanpa Gejala) dalam pelayanan kesehatan dan fasilitas.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved