Breaking News:

Virus Corona di Tulungagung

Ketersediaan Oksigen Medis di Kabupaten Tulungagung Tak Sebanding dengan Jumlah Pasien RS Darurat

Suplai tabung oksigen medis dari distributor lebih sedikit dari kebutuhan di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Kabupaten Tulungagung.

Penulis: David Yohanes | Editor: Elma Gloria Stevani
Istimewa
Tabung oksigen medis di salah satu rumah sakit di Kabupaten Tulungagung, Kamis (15/7/2021). 

Laporan Wartawan TribunMadura.com Network, David Yohanes

TRIBUNMADURA.COM, TULUNGAGUNG - Ketersediaan oksigen medis di Tulungagung sudah pada tahap mengkhawatirkan.

Sebab antara suplai yang ada dari distributor lebih sedikit dari kebutuhan di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, dr Kasil Rokhmat, mengatakan jika dirata-rata hanya ada 45 tabung oksigen ukuran 6 meter kubik per hari.

Rinciannya, 50 tabung dikirim setiap dua hari dari Merak Muda dan 20 tabung per hari dari Samator.

Padahal saat ini ada 10 RSDC dan akan ditambah lagi 9 Puskesmas yang dialih fungsi menjadi RSDC.

“Dengan 19 RSDC dan 45 tabung gas yang ada, maka setiap RSDC rata-rata hanya dapat dua tabung saja,” ungkap dr Kasil.

Padahal RSDC paling kecil mempunyai 8 tempat tidur.

Jika masing-masing pasien butuh pasien, maka petugas akan kesulitan membaginya.

Dari segi volume, oksigen yang ada tidak sampai habis, namun terkendala jika pasien yang membutuhkan lebih banyak dari stok tabung yang ada.

“Kalau masing-masing pasien membutuhkan oksigen, bagaimana membaginya?” keluh Kasil.

Hal serupa juga terjadi di RSUD dr Iskak, rumah sakit rujukan pasien Covid-19 di Tulungagung.

Lanjut Kasil, rumah sakit ini mempunyai depo oksigen berupa dua tabung ukuran raksasa.

Dari sisi ketersediaan, oksigen di rumah sakit ini sangat mencukupi dan tidak akan kehabisan.

Namun jika banyak pasien yang membutuhkan oksigen, maka pipa selang dan alat penyalurnya kurang.

Karena itu saat ini coba diakali dengan membuat cabang-cabang untuk memperbanyak jangkauan pada pasien.

Kondisi ini sebenarnya tidak ideal untuk pasien, namun cara ini yang bisa dilakukan agar lebih banyak pasien bisa mendapatkan oksigen.

“Kalau dari stoknya (oksigen) sangat banyak. Tapi sarana, alat untuk menyalurkan oksigen itu yang kurang,” ujar Kasil.

Jika kebutuhan fasilitas kesehatan demikian terbatas, Kasil menduga para pasien isolasi mendiri juga kesulitan mengakses oksigen.

Sebab distributor oksigen akan mendahulukan untuk menjaga pasokan di fasilitas kesehatan.

Sementara untuk meminta distributor menambah pasokan juga mustahil dilakukan, karena perusahaan  mempunyai kapasitas produksi.

Satu-satunya cara menekan kebutuhan oksigen adalah dengan menekan laju penularan Covid-19.

Upaya yang bisa dilakukan masyarakat adalah dengan membatasi mobilitas.

Sebab ledakan pasien akan terus terjadi, jika masyarakat punya niat membatasi mobilitas.

“Sampai saat ini belum ada tanda-tanda turun. Kami berupaya jangan sampai pasien nantinya dirawat di tenda-tenda,” pungkas dr Kasil.

Simak artikel lain terkait tabung oksigen medis, penularan Covid-19, Covid-19 di Tulungagung

FOLLOW JUGA:

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved