Breaking News:

Berita Pamekasan

Mahasiswa UTM Gagas Program Pemasaran UMKM, Bantu Penjualan Produk Tenun Ikat Warga Pamekasan

Mengenalkan program pengembangan UMKM dan pemasaran menggunakan teknologi media sosial masa kini itu dalam rangka 'Pengabdian Masyarakat LPPM UTM'.

Penulis: Kuswanto Ferdian | Editor: Aqwamit Torik
TribunMadura.com/Kuswanto Ferdian
Ryas Tri Faturrohman, Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) saat mencoba membuat sarung tenun ikat di salah satu UMKM di Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jumat (16/7/2021). 

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Kuswanto Ferdian

TRIBUNMADURA.COM, PAMEKASAN - Ryas Tri Faturrohman, Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mengenalkan program pengembangan UMKM dan pemasaran menggunakan teknologi media sosial masa kini kepada pengusaha tenun ikat di Desa Larangan Badung, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan, Madura.

Saat mengenalkan program tersebut, Mahasiswa Prodi Manajemen ini didampingi Dosen Pembimbing Lapangan, Dewi Muti'ah.

Mahasiswa yang akrab disapa Ryas ini, mengenalkan program pengembangan UMKM dan pemasaran menggunakan teknologi media sosial masa kini itu dalam rangka 'Pengabdian Masyarakat LPPM UTM'.

Dengan sikap telaten, Ryas mengajarkan pengusaha tenun ikat di Desa Larangan Badung tentang tata cara pengembangan UMKM dan pemasaran menggunakan teknologi sosial masa kini.

Ryas Tri Faturrohman menjelaskan, pengusaha tenun ikat di Desa Larangan Badung masih menggunakan cara tradisional untuk memasarkan produknya.

Sehingga, penjualannya masih terbilang kurang luas.

Mengacu dari polemik itu, dirinya membantu pemasaran tenun ikat milik salah satu pengusaha UMKM Tenun Ikat di Desa Larangan Badung Pamekasan melalui pemasaran online shop.

"Kami pemasarannya memanfaatkan media sosial FB, IG dan WA, serta beberapa platfoam media sosial lainnya. Kami sudah buat akun yang isinya penjualan kain tenun ikat. Supaya bisa menarik konsumen," kata Ryas Tri Faturrohman kepada TribunMadura.com, Jumat (16/7/2021).

Ryas menginginkan, melalui promosi dari berbagai media sosial itu, akan banyak masyarakat tahu bahwa di Desa Larangan Badung Pamekasan terdapat UMKM Tenun Ikat yang kualitasnya bagus.

Mahasiswa semester 6 ini juga mengungkapkan, per kain tenun ikat dijual seharga Rp 150 - Rp 750 ribu.

Namun, ada juga kain tenun ikat yang dijual seharga Rp 1 juta, bergantung pada motif dan kualitas kainnya.

"Harapan saya degan promosi lewat digital ini bisa banyak pembeli. Apalagi di masa pandemi Covid-19 untuk semakin menambah penghasilan," harapnya.

"Selain menggunakan promosi digital, kami juga memberikan pengarahan tentang packing yang lebih menarik, supaya pembeli juga terpikat," tutupnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved