Berita Magetan

Mencicipi Sajian Nasi Menok, Dulu Kesukaan Para Raja, Kini Menu Favorit Masyarakat Biasa

Dahulu nasi menok, yang berbahan rempah rempah, didominasi kelapa/santan, menu favorit raja raja Mataram, di  Pajang, Surakarta, Jawa Tengah.

Penulis: Doni Prasetyo | Editor: Aqwamit Torik
TribunMadura.com/Doni Prasetyo
Penjual nasi menok, Mbah Rubinah, satu satunya yang tersisa penjual nasi menok di Pasar Sayur Mayur di Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan. 

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Doni Prasetyo

TRIBUNMADURA.COM, MAGETAN - Sajian nasi menok, nasi yang harganya relatif murah ini ternyata dulunya disukai para raja.

Sego menok, tidak akan pernah ada duanya walau di negeri asalnya Solo.

Dahulu nasi menok, yang berbahan rempah rempah, didominasi kelapa/santan, menu favorit raja raja Mataram, di  Pajang, Surakarta, Jawa Tengah.

Saat ini hanya ada di Magetan, dijual Si Mbah Rubinah pedagang nasi lesehan di pelataran parkir Pasar Penampungan Sayur Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mayoritas konsumen yang merubungi mebu nasi menok pedagang pasar, buruh angkut dan sopir truk sayur sebagian warga setempat.

Mbah Rubinah (79) warga Dusun Maron, Desa Buluharjo, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, ini satu satunya penjual nasi menok di Magetan yang masih ada.

Rubinah menjual menu makanan khas nasi menok sejak 40 tahun lalu, meneruskan jualan orangtuanya.

"Sehari kami bisa menjual sebanyak 400 bungkus nasi menok dan lauk pauk pelengkapnya,"kata Mbah Rubinah yang ditemui saat sibut meladeni pembeli yang mengerubutinya, Sabtu (17/7).

Nasi menok yang punya rasa gurih karena pengaruh santan dan bumbu rempah rempah itu kini menjadi menu kuliner rakyat jelata, karena harganya yang sangat terjangkau,  Rp 4000 komplit lauk pauk pelengkap bothok sebungkus.

Dari 400 bungkus itu, ungkap Mbah Rubinah, nasi menoknya hanya sekitar 100 bungkus.

Sisanya lauk pauk pelengkap seperti bothok teri, bothok daun bawang merah, bothok tempe, pelas (kedelai hitam diberi rempah rempah santan), dan gadon (parutan kelapa dibumbui rempah rempah dan daging sapi).

"Kita jualan disini ba'da sholat Ashar (sekitar pukul 15.30) dan sekitar  pukul 16 an, alhamdulillah sudah habis biasanya. (Praktis Mbah Rubinah jualan hanya 30 menit),"katanya sambil tersenyum.

Menurut Mbah Rubinah, dulu ada beberapa yang jualan nasi menok, tapi sudah lama tidak lagi terlihat penjual nasi menok itu di Pasar Sayur Mayur Plaosan, Magetan.

Kemungkinan penjual yang lain itu tidak punya regenerasi sebagai penerus dinasti nasi menok.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved