Wabah Virus Corona

Covid-19 Varian Delta Plus Terdeteksi di Indonesia, Berikut Bahaya yang Timbul dan Perlu Diketahui

Delta Plus berbeda dari Delta karena mutasi ada ekstra K417N yang terletak di protein spike, yang menutupi permukaan virus SARS-CoV-2.

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo
Tingkat keganasan kecepatan penularan varian Delta Plus diperkirakan masih sama dengan varian Delta sebelumnya. Hanya saja ketika imun tubuh melawan, virus tersebut malah bertahan. 

TRIBUNMADURA - Belum selesai mengendalikan varian Delta, kini varian baru biru Covid-19 Delta Plus telah terdeteksi masuk ke Indonesia.

Dua Provinsi Indonesia yang sudah terdeteksi varian Covid-19 delta plus adalah Jambi dan Sulawesi barat.

Selain itu, Soumya mengakui adanya kekhawatiran varian Covid-19 Delta Plus mungkin menjadi lebih mematikan karena resisten terhadap obat dan vaksin.

"Kita perlu mencermati hal ini, kita perlu secara pasti meningkatkan pengurutan genom di negara-negara di seluruh dunia sehingga kita dapat melacak apa yang terjadi," jelas Soumya.

Kemudian, Seseorang yang terpapar varian Delta kemungkinan punya lebih banyak muatan virus, contohnya Satu orang yang terpapar varian Delta dapat menular ke dua, empat, enam dan delapan orang," kata Soumya.

Dilansir dari laman WHO, Tingkat penularannya yang tinggi membuat WHO memasukkan varian yang pertama kali ditemukan di India pada Oktober 2020 dalam kategori variant of concern.

Namun, belum ada bukti yang kuat apakah varian turunan Delta lebih menular. Siti Nadia Tarmizi mengatakan belum terlihat perbedaan penularan antara varian Delta dengan Delta Plus.

Tak hanya Soumya bahkan Miia juga menyorot mengenai potensi varian Delta Plus resisten terhadap antibodi tubuh yang sudah divaksin.

“Yang dikhawatirkan dari varian Delta Plus ini adalah dia resisten terhadap antibodi yang terbentuk dari vaksin terutama vaksin dari rekombinan gen seperti AstraZeneca," kata Mia.

Walau dikhawatirkan dapat tahan terhadap antibodi bukan berarti varian Delta Plus lebih virulen atau ganas.

Mungkin virus ini tidak terlalu ganas, tapi karena dia bisa memengaruhi antibodi, akibatnya antibodi yang seharusnya perang malah tidak bisa melawan.

Tingkat keganasan kecepatan penularan varian Delta Plus diperkirakan masih sama dengan varian Delta sebelumnya. Hanya saja ketika imun tubuh melawan, virus tersebut malah bertahan, tambahnya.

Salah seorang peneliti vaksin AstraZeneca asal Indonesia, Indra Rudiansyah mengatakan, beberapa jurnal ilmiah melakukan studi yang dilakukan di laboratorium menyatakan bahwa semua vaksin yang berlisensi masih tetap efektif melawan beberapa varian yang ada.

Meskipun ada sedikit penurunan (efektivitas) karena kemampuan netralisasi virus, namun semua vaksin masih efektif.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved