Wabah Virus Corona

Covid-19 Varian Delta Plus Terdeteksi di Indonesia, Berikut Bahaya yang Timbul dan Perlu Diketahui

Delta Plus berbeda dari Delta karena mutasi ada ekstra K417N yang terletak di protein spike, yang menutupi permukaan virus SARS-CoV-2.

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo
Tingkat keganasan kecepatan penularan varian Delta Plus diperkirakan masih sama dengan varian Delta sebelumnya. Hanya saja ketika imun tubuh melawan, virus tersebut malah bertahan. 

Jika ditemukan lebih menular, lebih resisten terhadap antibodi, atau menyebabkan penyakit yang lebih parah, varian itu kemudian disebut VOC.

Konsorsium Genomic SARS-CoV-2 India (INSACOG), jaringan laboratorium dan lembaga pemerintah di seluruh negara yang memantau variasi dalam kode genetik virus corona, sebenarnya mengklasifikasikan Delta Plus sebagai Variant of Interest (VOI), bukan VOC, kata ahli virologi Shahid Jameel, pemimpin kelompok penasihat ilmiah INSACOG.

Tetapi, menurut Jameel, mutasi baru tidak akan membuat Delta Plus kurang menular daripada Delta, atau mengurangi kemampuan virus untuk lolos dari respons imun.

"Makanya tidak ada salahnya jika Delta Plus juga disebut sebagai Variant of Concern," ujarnya.

Kini setidaknya ada dua versi varian Delta Plus yang perlahan menyebar ke seluruh dunia.

Varian telah terdeteksi di Kanada, Jerman, Rusia, Swiss, Polandia, Portugal, Nepal, Jepang, Inggris, dan AS.

Versi yang lebih umum secara internasional disebut "AY.1", sedangkan "AY.2" sebagian besar terdeteksi 150 kali di AS.

Efektivitas Vaksin

Vaksin yang ada saat ini masih bekerja melawan varian Delta asli tetapi kurang efektif.

Terutama di antara orang-orang yang mungkin tidak meningkatkan respons kekebalan yang efektif setelah vaksinasi, orang lebih tua, atau yang perlindungannya mungkin berkurang lebih cepat.

Dosis tunggal vaksin Pfizer atau AstraZeneca hanya efektif 33 persen terhadap penyakit simtomatik yang disebabkan oleh varian Delta.

Setelah dua dosis, vaksin AstraZeneca menjadi 60 persen efektif, dan efektivitas Pfizer naik menjadi 88 persen.

Penelitian awal baru menunjukkan bahwa vaksin Moderna kurang manjur terhadap varian Delta dan Johnson & Johnson hanya sekitar 60 persen efektif.

Tetapi di Israel, di mana 57,1 persen populasinya sudah divaksinasi penuh, sekitar setengah dari infeksi varian Delta terjadi di antara mereka yang divaksinasi penuh dengan suntikan Pfizer.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved