Breaking News:

Pemasangan Baliho Puan Maharani Dinilai Bisa Dongkrak Popularitas, Begini Kata Pengamat Politik

Pemasangan baliho Puan Maharani itu bahkan memunculkan persepsi masyarakat terkait untuk meningkatkan popularitas hingga panggung Pilpres 2024.

Penulis: Yusron Naufal Putra | Editor: Ayu Mufidah Kartika Sari
TRIBUNMADURA.COM/YUSRON NAUFAL PUTRA
Baliho bergambar Puan Maharani mulai muncul di berbagai titik di Jawa Timur. 

Laporan Wartawan Tribun Madura Network, Yusron Naufal Putra

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA - Pengamat politik angkat bicara soal baliho Puan Maharani yang saat ini banyak bertebaran di sejumlah wilayah.

Pemasangan baliho Puan Maharani itu bahkan memunculkan persepsi masyarakat jika Ketua DPR RI tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan popularitas.

Tidak hanya itu, baliho Puan Maharani juga dikaitkan pada panggung Pilpres 2024, lantaran nama Ketua DPR RI itu kerap masuk dalam berbagai survei yang memotret figur potensial.

"Kalau dihubungkan dengan sosiologi politik, itu semacam drama turgi. Dimana ada panggung depan dan ada panggung belakang terkait dengan sesuatu yang ditampilkan," kata Pengamat Politik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Agus Machfud Fauzi, Selasa (3/8/2021).

Baca juga: Baliho Puan Maharani Bertebaran di Mana-mana, PDI Perjuangan Jatim Jelaskan Tujuan: Kami Juga Pasang

Jika dilihat dari baliho yang dipasang di berbagai lokasi itu, ia mengatakan, memang tidak menampilkan politis secara gamblang. Melainkan pesan Puan sebagai Ketua DPR RI.

Menurut dia, tidak ada makna secara politis. Hal itu juga diperkuat dengan pernyataan sejumlah tokoh partai.

Namun, kata Agus, dalam sebuah realitas politik selalu menyimpan sesuatu di balik layar.

"Panggung belakangnya di sini kemudian publik menyebut ada kepentingan Pilpres," tutur dia.

"Di dalam politik itu tidak bisa antara satu dengan yang lainnya itu dipisahkan. Pasti ada hubungannya," terangnya.

Terkait baliho dalam sebuah kontestasi, Agus berpendapat untuk saat ini media semacam itu hanya bersifat untuk mengenalkan ke publik atau untuk sisi popularitas semata. Bukan langsung mengarah untuk menggaet simpati pemilih.

"Popularitas saja. Tetapi nanti kalau misalkan pada Pilpres yang sebenarnya. Sesudah populer betul, tentu dengan mekanisme, pasti akan ada pergerakan yang mengarah, pemilih tidak cukup kenal tapi juga mempunyai rasa empati," ucapnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved