Breaking News:

Berita Malang

Gelar Orkes Dangdut saat PPKM, Anak Kades di Malang Resmi Jadi Tersangka Kasus Kerumunan Dangdutan

Anak Kepala Desa di Kabupaten Malang ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan pelanggaran protokol kesehatan.

t-nation.com
ilustrasi - Anak Kepala Desa Gading Malang ditetapkan jadi tersangka 

TRIBUNMADURA.COM, MALANG - Satreskrim Polres Malang menetapkan Y (30) sebagai tersangka kasus dugaan pelanggaran protokol kesehatan.

Anak Kepala Desa Gading itu harus bertanggung jawab atas gelaran dangdutan yang digelar saat pemberlakuan PPKM Level 4 di Kabupaten Malang beberapa waktu lalu.

"Tersangka membuat kerumunan di tengah PPKM Level 4," kata Kapolres Malang, AKBP R. Bagoes Wibisono ketika dikonfirmasi.

"Kegiatan tersebut mengakibatkan kerumunan dimana penyebaran Covid-19 ini masih tinggi di Kabupaten Malang," terang dia.

Sebelumnya, Y sengaja menggelar orkes dangdut sebagai pemanis acara saat peresmia kafe yang dikelolanya di Desa Gading, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang.

Aksi Y bersama teman-temannya terekam dalam video amatir berdurasi pendek.

Dalam video itu, tampak beberapa pria secara rileks bernyanyi bersama para biduan cantik.

Video tersebut viral di media sosial pada awal Agustus 2021 lalu hingga akhirnya diketahui polisi.

Polisi akhirnya melakukan pemanggilan terhadap Y dan juga Kades Gading, Suwito untuk menjadi saksi, bersama sekitar 20 orang yang hadir dalam acara tersebut.

Suwito saat dimintai keterangan polisi mengelak bahwa video yang tersebar luas itu adalah gelaran orkes dangdut.

Sang kades sebelumnya berdalih acara tersebut adalaj atihan musik dari teman-teman Y saat launching kafe baru Y.

Suwito pun secara lantang mengklaim semua orang hadir menerapkan protokol kesehatan.

Polisi tetap memutuskan acara tersebut melanggar prokes dan menyebabkan kerumunan.

Perihal penanganan kasus tersebut, Bagoes meneragkan polisi tengah mengumpulkan berkas-berkas kasus tersebut untuk dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang.

"Tinggal melengkapi berkas-berkas kami limpahkan ke Kejaksaan. Ini kami sudah tahap penyidikan dan tersangkanya satu," tutur dia.

Kendati ditetapkan sebagai tersangka, Y tidak dilakukan penahanan oleh kepolisian.

Sebab, kata Bagoes, ancaman hukuman atas pelanggaran Y di bawah dua tahun.

Y terancam hukuman satu tahun karena melanggar Undang-Undang nomor 6 tahun 2018 Pasal 1 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

"Di bawah dua tahun jadi tidak kami lakukan penahanan," tutupnya. (ew)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved