Berita Malang

Perubahan Nama Kabupaten Malang jadi Kabupaten Kepanjen Tuai Kontra, Para Tokoh Pertanyakan Urgensi

Wacana penggantian nama Kabupaten Malang menjadi Kabupaten Kepanjen menuai kritik dari sejumlah pihak.

TRIBUNMADURA.COM/ERWIN WICAKSONO
Pendopo Panji di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jumat (24/9/2021). 

TRIBUNMADURA.COM, MALANG - Wacana penggantian nama Kabupaten Malang menjadi Kabupaten Kepanjen menuai kontra dari sejumlah pihak.

Anggota Komisi I DPR RI dapil Malang Raya, Kresna Dewanata Phrosakh misalnya, yang kurang setuju apabila nama Kabupaten Malang diganti menjadi Kabupaten Kepanjen.

Kresna Dewanata Phrosakh beranggapan jika nilai historis Kabupaten Malang begitu kental, sehingga sangat disayangkan apabila diubah.

"Secara pribadi sangat disayangkan, kita tahu sendiri jika usia Kabupaten Malang ini sudah ribuan tahun," kata Dewa ketika dikonfirmasi.

Baca juga: Wacana Nama Kabupaten Malang Diubah Jadi Kabupaten Kepanjen, Bupati Sanusi Sebut Masalah Urgensi

"Urgensi untuk merubah nama tersebut apa yang menyebabkan diubah," beber dia.

Dewa berpendapat, pergantian nama tersebut merupakan urusan yang tidak seberapa mendesak.

"Kalau Malang ya Malang Raya, saya tidak sepakat jika diganti nama, perlu diketahui apa latar belakang pergantian nama tersebut," beber Dewa.

Dewa cenderung lebih setuju realisasi pemekaran wilayah ketimbang pergantian nama Kabupaten Malang jadi Kabupaten Kepanjen.

Pada skema pemekaran bagian utara Kabupaten Malang diwacanakan menjadi Kabupaten Singhasari, yang terdiri dari delapan kecamatan, yakni Poncokusumo, Tumpang, Jabung, Pakis, Lawang, Tajinan, Karangploso, dan Singosari.

"Perlu diketahui apa yang menjadi landasan dasar untuk mengganti nama itu, saya lebih sepakat pemekaran wilayah yang sempat menjadi perbincangan berbagai kalangan di tahun 2015 silam," tutupnya.

Di sisi lain, Budayawan Malang Raya, Dwi Cahyono menilai, pergantian nama Kabupaten Malang bisa merusak pakem budaya.

Dwi menelaah bahwa Kabupaten Malang muncul sejak berabad-abad lalu di masa kerajaan dengan nilai historis yang tinggi.

"Nama Malang itu merupakan suatu daerah kecil yang dijadikan tempat berburu, yang ada sebuah gunung bernama gunung Malang," ucap dia.

"Peta tepografi tahun 1811 masih menyebutnya gunung Malang, gunung itu saat bernama gunung Buring," kata pria yang juga merupakan arkeolog dan sejarawan Universitas Negeri Malang itu.

Dwi berpesan agar wacana penggantian nama Kabupaten Malang menjadi Kabupaten Kepanjen tersebut ditelaah kembali secara mendalam.

"Wacana itu kan dilontarkan formal dan ditujukan pada pusat, wacana itu ya serius bukan sekadar slengekan. Oleh karena itu ini harus ditanggapi serius," jelasnya. (ew)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved