Breaking News:

Berita Bangkalan

Petani Selalu Menjerit Ketika Masa Panen, Harga Gabah Selalu Anjlok Masih Belum Terselesaikan

hingga saat ini tidak ada satu pihak yang bersedia menampung hasil produksi petani di Kabupaten Bangkalan dengan tujuan sekadar menjaga harga gabah

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Aqwamit Torik
TribunMadura.com/Ahmad Faisol
Petani Desa Bilaporah Kecamatan Socah tengah melakukan penyemaian. Setiap tetesan keringat mereka menyokong perekonomian untuk menjaga kedaulatan pangan. Namun jerih payah petani hingga kini seolah masih membentur tembok bertuliskan, ‘Harga gabah anjlok ketika musim panen serta kebijakan pemerintah terkait impor beras’ 

TRIBUNMADURA.COM, BANGKALAN – Jerih payah petani hingga kini seolah masih membentur tembok bertuliskan, ‘Harga gabah anjlok ketika musim panen serta kebijakan pemerintah terkait impor beras’.

Setiap peringatan Hari Tani Nasional (HTN). benak dan angan Moh Amin (50), petani asal Desa Langkap, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan selalu terngiang akan lirik lagu bergenre rock and roll karya grup band Slank, ‘Pak Tani’.

‘Pak tani bajak sawah pake traktor, kerja rutin ngontrol ladang numpak Harley, ngitung laba panen pake komputer, ngirim order beras pake helicopter. Kapan….kapan semua itu akan terjadi, entah kapan, para petani hidup bagai orang di kota, gak mungkin….gak mungkin semua itu terjadi, seratus tiga tahun mungkin’

Amin merasakan sejauh ini pemerintah secara perlahan mulai berupaya mengurai permasalahan para petani melalui bantuan beragam jenis mesin peralatan pertanian hingga peluncuran Kartu Tani.

Namun hal itu masih belum mampu menyelesaikan persoalan klasik pertanian di Indonesia.

“Paling tidak harga gabah tidak anjlok ketika musim panen tiba. Apalagi saat musim panen pertama beberapa waktu lalu, pemerintah masih mengeluarkan kebijakan impor beras. Para petani tambah kelimpungan,” ungkapnya kepada Surya. Jumat (24/9/2021).

Ia menjelaskan, kondisi anjloknya harga gabah membuat para petani tidak mampu berbuat banyak.

Tidak ada cara lain selain menjual hasil panen mereka ke pasar sebagai upaya mempertahankan keberlangsungan hidup.

“Kami butuh uang, menjual gabah senilai Rp 4.500 per kilogram dan beras di harga tertinggi Rp 7.500 per kilogram. Beras kami setelah dikulak dan digiling di Surabaya bisa terjual senilai Rp 12.000 per kilogram,” jelas petani yang juga menjabat Ketua Kelompok Tani (Poktan) Song-osong Lombhung itu.  

Permasalah itu selalu menjadi bahasan utama anggota poktan dalam setiap gelaran rapat rutin Poktan Song-osong Lombhung merupakan induk dari sejumlah poktan yang ada di Desa Langkap, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved