Breaking News:

Berita Lumajang

Akhiri Bulan Safar, Warga Kota Lumajang Bikin Kuliner Warisan Nenek Moyang Jenang Sapar

jenang sapar menjadi kuliner untuk merayakan Bulan Safar, sajian kuliner warisan nenek moyang ini mirip seperti bubur

Penulis: Tony Hermawan | Editor: Samsul Arifin
TRIBUNMADURA.COM/TONY HERMAWAN
Warga Kampung Karamba, Kelurahan Ditotrunan RT 04/RW 05, Lumajang, Jawa Timur, saat meracik jenang sapar secara bergotong-royong, Minggu (3/10/2021). 

TRIBUNMADURA.COM, LUMAJANG - Warga Kampung Karamba, Kelurahan Ditotrunan RT 04/RW 05, Lumajang, Jawa Timur, jenang sapar menjadi kuliner untuk merayakan Bulan Safar. Bulan Safar merupakan salah satu bulan dalam kalender penanggalan Hijriyah. 

Bahan dasar jenang sapar adalah beras ketan. Sajian kuliner warisan nenek moyang ini mirip seperti bubur. Tidak jarang, banyak masyarakat makanan ini jenang grendul karena berbentuk bundar-bundar.

Sutiyanah seorang warga setempat mengatakan, tradisi ini setiap tahun diselenggarakan secara rutin. Sebelum jauh virus corona datang, katanya, warga satu RW selalu bergotong royong membuat jenang sapar.

"RT kami (04) kebetulan kena minggu pungkasan, RT lain sudah mendahului. Maka kami adakan pada hari ini," katanya.

Membuat jenang sapar secara gotong royong, tentu saja ini menjadi kultur unik di Lumajang. Apalagi semua emak-emak yang membuat jenang sapar juga berpakaian jadul adat jawa. Memasak juga menggunakan tungku. Ini seolah-olah membuat citra rasa jenang sapar yang disajikan di daun pisang bertambah nikmat.

Baca juga: Nikmatnya Becek Mawot Tuban ala Mak Win, Kuliner Khas Warisan Resep Keluarga Selama 15 Tahun

Jenang safar sendiri merupakan kuliner yang sering banyak ditemukan di Pulau Jawa-Madura. Menurut cerita-cerita lawas, kuliner ini telah ada sejak sebelum kemerdekaan.

Tak ayal, sebagaian masyarakat dari Pulau Jawa mempercayai filosofi membuat jenang safar sebagai syukur atas melimpahnya hasil bumi, terawatnya kedamaian, hingga menolak bala.

Adat-istiadat ini tampaknya dijaga betul oleh warga Kampung Karamba. Buktinya, para remaja dan anak kecil juga dilibatkan dalam membuat jenang safar.

"Budaya Jawa memang perlu dilestrikan. Biar budaya tetap berlanjut dan lestari," pungkasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved